December: Save the Best for the Last

December 1, 2017 § Leave a comment

20171204_0926061189941684.jpg

Banyak momen menarik pada permulaan bulan ini. Pertama, Faris genap berusia satu tahun. Kedua, terlepas dari ikhtilaf yang ada, 1 Desember ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ketiga, hari ini menutup November Challenge saya. Dan, keempat, bulan ini adalah bulan penghabisan di 2017. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Blog itu untuk Sekali Duduk [NC#20]

November 20, 2017 § Leave a comment

typwriter

Menulis untuk blog pada prinsipnya adalah tulisan sekali duduk. Blog, bagi saya, adalah wadah melatih jari menari di atas keyboard dan melatih otak merangkai aksara. Maka, menulisnya tidak perlu sempurna-sempurna banget. Kesalahan di sana sini, penulisan yang tak sesuai dengan EYD atau penggunaan bahasa yang tidak baku, bukanlah masalah dalam blog. Jika ingin menulis blog, tulis saja. Begitu kuncinya.

Saya perlu berkali-kali mengingatkan hal ini agar tertanam di alam bawah sadar. Sebab, jika tidak demikian, menulis blog bisa menjadi momok. Agaknya saya sudah tiba pada fase menjelang jenuh. Cape menulis setiap hari. Namun karena tuntutan peran (aih), saya paksakan menulis. Apapun itu. Jika tidak ada ide yang bisa saya tulis, maka tidak ada ide itu adalah judul blog hari ini. Jika saya terlalu lelah pulang bekerja maka terlalu lelah itu adalah tema bahasan blog. Apa saja dapat dijadikan bahan tulisan. Menulis blog itu bebas. Dan penulis blog adalah orang yang kaya dengan ide. Karena apapun bisa ditulisnya.

Saya bukan penulis. Belum satupun karya tulis saya berbentuk buku. Hanya ada satu-dua hasil penelitian. Itupun karena statussaya sebagai mahasiswa. Tuntutan peran (aih). Secara mutlak saya boleh katakan, saya bukan penulis. Karena itu, menulis blog ini tidak ada taruhannya. Nothing to lose. Jika tulisan saya jelek, tidak ada juga yang peduli. Jika tulisan saya bagus, alhamdulillah. Itu menjadi perkembangan menulis saya. Jika tulisan tak bermanfaat, tak apa. Jika tulisan saya memberi inspirasi, itu juga kado. Prinsipnya, penulis blog, menurut saya, adalah orang yang lepas. Menulis apa saja. Mengambil ide dari mana saja.

Karena itu, memaksakan menulis setiap hari adalah bentuk menciptakan kebiasaan yang bagus. Dan, agaknya, setelah November nanti, saya perlu terus memaksakan kebiasaan ini. Tak ada yang perlu ditakutkan dalam menulis blog. Karena itu, tulislah blog dengan sekali duduk. Jika ingin lebih baik, baca ulang kembali dan edit sedikit. Lalu, post!

Selamat menulis.

Jakarta, 3.54 pm

 pic: bsnscb.com/

Laptop yang Terpinjam [NC#18]

November 18, 2017 § Leave a comment

Laptop

Seharusnya saya menulis tiap hari sebagaimana yang saya janjikan pada akhir Oktober lalu. The November Challenge, one post a day. Jumat lalu saya paksakan membawa laptop pada saat acara keluar kota. Tak biasanya saya membawa laptop untuk acara yang lebih seperti jalan-jalan ketimbang rapat. Namun, demi one post one day, saya relakan beban tas punggung saya bertambah oleh laptop.

Demikian rencana awalnya. Hingga perjalanan pun berjalan baik. Jumat itu saya sempatkan menulis di kereta. Namun, setelahnya apa yang saya rencanakan tidak terlaksana sama sekali. Bukan karena saya malas, namun sejak Sabtu pagi laptop saya dipinjam. Akibatnya, Sabtu-Ahad saya tidak menulis apapun. Tak masalah, setidaknya saya punya dua alasan baik pada kejadian ini.

Pertama, yang meminjam laptop agaknya lebih membutuhkan ketimbang saya yang menulis untuk blog saja (which is personal purpose), kenapa? Karena yang meminjam laptop adalah mantan walikota, ehm. Serius. Hanyasaja beliau tidak langsung meminjam kepada saya. Faktanya, sampai saat ini beliau masih tidak kenal saya.

Alasan kedua, ini keluar kota. Melihat daerah baru. memang alangkah baiknya saya fokus dengan dunia sesungguhnya ketimbang layar. Peminjaman laptop itu menyuruh saya untuk menikmati dunia nyata yang sungguh lebih indah dari dunia maya. Lagian, dengan dipinjamnya laptop tersebut, saya tidak harus menambah beban 1,4 kg di tas.

Maka, di sinilah saya mengejar ketertinggalan beberapa postingan blog. Beruntungnya wordpress menyediakan opsi memilih tanggal yang saya inginkan untuk setiap postingan. Meski sudah telat beberapa hari, saya masih bisa meletakkan di blog untuk tanggal yang saya kehendaki. Tanggal yang sesuai urutan blog saya.

Jadilah, laptop yang dipinjam itu tidak begitu masalah. Dan saya rasa itu baik, karena sepanjang perjalanan beban saya menjadi lebih ringan dan tak perlu repot pada saat masuk ruang tunggu bandara.

Jakarta, 3.42pm

Yang Penting Menulis [NC#7]

November 7, 2017 § Leave a comment

Quotefancy-208589-3840x2160
Saya tahu, judul tulisan ini tak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Awal kalimat tidak boleh dimulai dengan ‘yang’, begitu aturannya. Dan yang saya lakukan di atas adalah memulai awal judul dengan ‘yang’. Lebih parah. « Read the rest of this entry »

Now-vember Challenge [NC#1]

November 1, 2017 § Leave a comment

Manggarai St.

Welcome a new month. This new month means a new thing for me. Perhaps for everybody else too. I had a plan for this new month while commuting home by train yesterday. The result of that train-contemplating is this: a challange. To be more spesific it is a writing-challange.

This writing challenge has nothing to do with writing competition or what so ever. It is a personal planning to dare my self to be consistent at writing. To be good writer is one of my dream. I always see being a writer is a cool job. Imagine, you only need a pen and paper, or in this era you just need a laptop, doesnt have to be a high-end laptop, just a regular laptop; and then you can pour everything you have in your mind in the form of words. I even envy some people who can write so awesome right from their mobile phones. If writing is a hobby, it is so simple. If it is a job, it is also can be done in any situation. It is cool from any perspective.

So I plan for this new month two challenges: « Read the rest of this entry »

The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

1

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Menulis (Lagi)

October 17, 2013 § Leave a comment

Saya memulai menulis lagi. Dan ini untuk yang kesekian-kalinya. Serupa kalimat satir Mark Twain tentang berhenti merokok, begitu pula keadaan menulis saya. “Giving up smoking,” tulis Twain, “is the easiest thing in the world. I know, because I have done it a thousand times.” Bagi saya, memulai menulis, adalah hal termudah di dunia ini. Saya sudah melakukannya ribuan kali. Memulai, terhenti, memulai lagi, terhenti lagi, memulai…

Saya buka kembali blog, tulisan terakhir saya post pada 26 Juli. Nyaris tiga bulan lalu. Itupun bukan tulisan saya melainkan copas-an dari pesan-pesan emasnya Ustadz Rahmat Abdullah. Postingan yang murni saya tulis, bukan copas juga bukan terjemahan, adalah pada 2 Februari. Delapan bulan lalu. Iya, saya bukan blogger sejati agaknya.

Sejak pindah rumah dari multiply ke wordpress, kwantitas menulis saya menurun drastis. Berhubung menulis adalah sebuah kebiasaan, dan kebiasaan adalah kerja yang selalu dirutinkan; maka menurunnya kwantitas menulis berbanding lurus dengan kwalitasnya. Kwalitas menulis saya pun memburuk dari yang sebelumnya—menurut saya—baik. Atau me-lebih-buruk dari yang sebelumnya—menurut para masters atau mungkin haters :P—sudah sudah buruk jua.

Jika saya buka kembali catatan harian, rutinitas menulis saya tak seburuk yang di blog. Dua bulan lalu, ya, dua bulan lalu, saya terakhir menulis jurnal harian. Dan, itupun beberapa paragraf saja. Pada jurnal hari-hari sebelumnya hanya beberapa paragraf juga. Meminjam ucapan Imam At-Thabari, qad maatatil himmah. Innalillah :(

Malam ini saya terdorong untuk menulis lagi. Bukannya saya baru pulang dari seminar motivasi, juga bukan karena ingin ikut lomba blog, hanya saja, saya merasa harus menulis di ruangan ini. Di ruangan dimana orang yang saya cintai pernah menghabiskan malamnya dengan kumpulan kata-kata.

Keep calm and ask dadMalam ini saya berada di ruang kerja almarhum ayah. Di ruang ini ayah bekerja keras supaya kami bisa tetap sekolah. Siang hari, jika ayah tidak menenteng meja lipatnya untuk dagang kaki lima di Pasar Bukittinggi, kamar ini menjadi ruang bekerjanya membuat pesanan orang. Dan, malam hari, kamar ini selalu penuh sesak dengan jutaan inspirasi ayah yang beliau tuangkan dalam aksara.

Disamping itu, ruang ini juga menjadi saksi bisu dimana kami sering bercerita kepada ayah apa saja dari hal penting sampai hal tak penting sama sekali. Dari impian dan rencana masa depan sampai cerita picisan anak sekolahan yang semuanya selalu disimak ayah dengan sangat baik dan serius. Tak satupun dari ucapan kami yang terlewat tak didengar. Bagi ayah, setiap cerita kami adalah anugerah. Saya ingin ceritakan kepada kamu bagaimana ayah menghargai setiap cerita kami. Sederhana sekali: ayah sibuk bekerja, saya atau mungkin saudara saya datang dan memulai bicara, serta merta ayah hentikan kerjanya lalu fokus mendengar celoteh kami. Kapanpun itu.

Kamar ini menyimpan banyak sekali kenangan. Bagiku, kamar ini menjadi kenangan dimana ayah pernah sangat bahagia, dan mengatakan, “Tidak bisa tidur karena susah, ayah sudah sering; tapi tak bisa tidur karena bahagia, baru kali ini.” Lalu, beberapa hari setelah itu, Allah wafatkan ayah.

Gurun Aur, 17 Oktober 2013

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with write at jannahTees.