Tahu Apa yang Benar² Inspiring One?

January 7, 2013 § Leave a comment

inspiring_onePekan lalu, seorang teman menghadiahi saya buku ini (may Allah grant you better). Saya percaya bahwa everything happens on purpose. Segala teori tentang ‘kebetulan’, bagi saya, adalah omong kosong. Maka, buku yang di tangan saya inipun punya alasan sendiri: buku dengan isi yang tepat di waktu yang tepat.

Buku ini berjudul Inspiring One. Merupakan kumpulan artikel dari GeraiDinar.com. Sederhananya, blog yang dibukukan. Ditulis oleh Muhaimin Iqbal, pendiri Gerai Dinar. Terbaca dari sub-judulnya, buku ini bertujuan membangun jiwa entrepreneur dan memberikan kiat sukses dalam usaha. Penyampaian dalam buku ini ringan dan sederhana. Meski demikian buku ini tak hanya berisi kiat sukses usaha semata, namun juga sukses kehidupan.

Tentunya buku ini disuguhkan untuk siapapun yang memiliki keinginan berwirausaha. Baik mereka yang belum punya usaha atau yang sudah punya penghasilan sendiri, wabil khusus, para pekerja yang masih terima gaji. Namun jangan sinis dulu, penulis mencantumkan sendiri bahwa buku ini untuk mereka yang mengalami penyakit bad days: tak betah dengan rutinitas yang sama, gaji tetap, kemajuan lambat, singkat kata: ingin segera resign.

Saya setuju dengan penulis. Bagi mereka yang sudah nyaman dengan pekerjaan, tentu tak perlu merasa tergoda atau memaksakan diri untuk tidak betah. Menurut saya, tidak ada salahnya bekerja menerima upah—yang katanya zona aman—jika penghasilan halal, kebermanfaatan luas, kerja sejalan dengan hobi, pahala tinggi plus gaji besar (bilang و). « Read the rest of this entry »

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

July 27, 2012 § Leave a comment

Menarik untuk dibaca. Meminta-minta memang terlihat lebih gampang, namun bekerja, dengan hasil sedikit atau banyak, membawa kepada kemuliaan. Dan setelah usaha, masalah rezki serahkan pada Allah.

Catatanku

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli…

View original post 693 more words

Kelas Kehidupan di Lereng Merapi

June 23, 2012 § 4 Comments

Merapi paska erupsi, diambil dari Desa Glagaharjo

Tidak ada yang istimewa dari rumah kecil itu. Serupa dengan ratusan rumah bantuan sosial lainnya, rumah itu juga demikian. Separuh kebawahnya dibangun dari batako dan separuh keatas bilik. Lantainya masih semen dan langit-langitnya langsung asbes. Jika engkau sempat berkunjung ke Dusun Kali Tengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan yang berposisi di lereng Merapi, rumah-rumah ini nyaris seragam ukuran dan bentuknya.

Begitu pula rumah Sumarjo (70 tahun), lelaki tua yang sejak lahir hingga saat ini menetap di lereng Merapi. Berdua saja dia dengan istrinya mendiami dan mengurus rumah sederhana itu. Dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal bersama keluarga mereka. Anak-anak mereka sudah mandiri. Hidup berpisah dari orang tua mereka. Pasangan tua itupun dituntut untuk mandiri. Hidup berpisah dari anak-anak mereka. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with realife at jannahTees.