Laptop yang Terpinjam [NC#18]

November 18, 2017 § Leave a comment

Laptop

Seharusnya saya menulis tiap hari sebagaimana yang saya janjikan pada akhir Oktober lalu. The November Challenge, one post a day. Jumat lalu saya paksakan membawa laptop pada saat acara keluar kota. Tak biasanya saya membawa laptop untuk acara yang lebih seperti jalan-jalan ketimbang rapat. Namun, demi one post one day, saya relakan beban tas punggung saya bertambah oleh laptop.

Demikian rencana awalnya. Hingga perjalanan pun berjalan baik. Jumat itu saya sempatkan menulis di kereta. Namun, setelahnya apa yang saya rencanakan tidak terlaksana sama sekali. Bukan karena saya malas, namun sejak Sabtu pagi laptop saya dipinjam. Akibatnya, Sabtu-Ahad saya tidak menulis apapun. Tak masalah, setidaknya saya punya dua alasan baik pada kejadian ini.

Pertama, yang meminjam laptop agaknya lebih membutuhkan ketimbang saya yang menulis untuk blog saja (which is personal purpose), kenapa? Karena yang meminjam laptop adalah mantan walikota, ehm. Serius. Hanyasaja beliau tidak langsung meminjam kepada saya. Faktanya, sampai saat ini beliau masih tidak kenal saya.

Alasan kedua, ini keluar kota. Melihat daerah baru. memang alangkah baiknya saya fokus dengan dunia sesungguhnya ketimbang layar. Peminjaman laptop itu menyuruh saya untuk menikmati dunia nyata yang sungguh lebih indah dari dunia maya. Lagian, dengan dipinjamnya laptop tersebut, saya tidak harus menambah beban 1,4 kg di tas.

Maka, di sinilah saya mengejar ketertinggalan beberapa postingan blog. Beruntungnya wordpress menyediakan opsi memilih tanggal yang saya inginkan untuk setiap postingan. Meski sudah telat beberapa hari, saya masih bisa meletakkan di blog untuk tanggal yang saya kehendaki. Tanggal yang sesuai urutan blog saya.

Jadilah, laptop yang dipinjam itu tidak begitu masalah. Dan saya rasa itu baik, karena sepanjang perjalanan beban saya menjadi lebih ringan dan tak perlu repot pada saat masuk ruang tunggu bandara.

Jakarta, 3.42pm

Advertisements

No I in T E A M [NC#13]

November 13, 2017 § Leave a comment

Pergantian tahun satu bulan setengah lagi. Jika pekerjaan serupa maraton yang dilakukan selama satu tahun, maka pekan-pekan ini adalah waktunya sprint. Berlari sekencang mungkin untuk mencapai finish. Begitu juga dengan tempat saya bekerja. Ada beberapa target yang harus diselesaikan disamping mempersiapkan bahan untuk rapat akhir tahun. Pada rapat akhir tahun, rencana kerja selama satu tahun ke depan akan dibahas. « Read the rest of this entry »

Mengambil Masa Lalu [NC#12]

November 12, 2017 § Leave a comment

Siapa yang masih saja menempel dengan masa lalu disebut gagal move on. Namun, mereka yang melupakan masa lalu juga akan kesulitan belajar hidup. Mengingat masa lalu, sebagaimana obat, harus dengan komposisi dan waktu yang pas. « Read the rest of this entry »

Yang Penting Menulis [NC#7]

November 7, 2017 § Leave a comment

Quotefancy-208589-3840x2160
Saya tahu, judul tulisan ini tak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Awal kalimat tidak boleh dimulai dengan ‘yang’, begitu aturannya. Dan yang saya lakukan di atas adalah memulai awal judul dengan ‘yang’. Lebih parah. « Read the rest of this entry »

Humor Tukang Cukur

December 9, 2012 § 1 Comment

Ide cerita ini saya dapat dari seorang teman. Lucu. Tapi lucu saja tidak menguntungkan, semoga kita bisa ambil pelajaran di sini tentang take and give, oh bukan, tepatnya give and take. Ok, begini ceritanya

Di pinggir jalan di Kairo sana ada seorang tukang cukur yang baik hati. Suatu hari, seorang pemilik toko bunga mengunjungi si tukang cukur untuk potong rambut. Setelah rapi, si pemilik toko bunga memberikan beberapa lembar pound Mesir untuk membayar upah pangkas. Namun, si tukang cukur menolak dengan ramah, “Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Si pemilik toko bunga sangat bahagia kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget mendapati kartu ucapan terima kasih berikut belasan bunga cantik tersusun rapi di depan pintu.

Di kemudian hari, seorang polisi datang untuk potong rambut. Seperti biasa, setelah rapi Pak polisi membayar si tukang cukur. Dan, seperti biasa pula si tukang cukur menolak ramah, “Maaf Pak, saya tak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Pak Polisi sangat senang kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget mendapati kartu ucapan terima kasih dan sekotak halawa (manisan) di depan pintu.

Kemudian hari, seorang mahasiswa Indonesia datang untuk potong rambut. Setelah rampung, mahasiswa tersebut membayar si tukang cukur. Si tukang cukur lagi-lagi menolak ramah, “Maaf Nak, saya tak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Si mahasiswa sangat senang kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget. Tebak apa yang dia dapatkan di depan tempat cukurnya? Puluhan mahasiswa menunggu untuk dicukur. []

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with randomosity at jannahTees.