In Memoriam, Ayah

May 30, 2013 § 2 Comments

Sebuah catatan kecil, dua tahun lalu:

____________________

Sebelum membaca dan tahu deretan tokoh yang tak akan kekal nama mereka hingga hari ini kecuali karena idealisme yang diikuti oleh konsistensi terhadap idealisme tersebut; aku sudah punya figur sendiri. Sosok yang—menurutku—sangat konsisten dengan segala yang pernah dia ajarkan. Aku tahu, sebab, aku pernah membaca banyak tulisannya, bercerita lama, curhat, hidup, interaksi tanpa henti; bahkan, aku juga dibesarkan dan berutang banyak pada sosok ini. Terkesan subjektif, memang. Namun, di belahan bumi mana seseorang mampu bertindak objektif untuk saat ini? Maka, ijinkan aku menggunakan hak-ku untuk berbicara subjektif selagi tak menyinggung hak orang lain.

Bagiku saat itu, ayah adalah sosok paling idealis yang pernah aku kenal dalam hidup. Tidak dalam satu-dua perkara, namun, pada banyak hal dia akan bertahan dengan apa saja yang diyakininya sebagai kebenaran. Setiap kali berdebat, mulai dari masalah tidak mengikut-sertakan adikku kursus bahasa Inggris yang dipaksakan diwajibkan oleh sekolah hingga kasus-kasus terkait birokrasi. Aku tak perlu bercerita banyak, nenek yang pernah membesarkan ayah, terang-terangan mengatakan: jangankan kalah, seri saja dia tak mau.

Saat awal berumah tangga, ayah lebih memilih meninggalkan toko emas besar di Jakarta dan berangkat ke Surabaya berdagang asongan rokok—korek api. Saat itu ayah masih bekerja dengan pamannya, kakekku. Dan, alasan kenapa memilih jalanan panas Surabaya ketimbang toko emas besar di Jakarta Pusat sana bukanlah perkara utang melilit atau gaji kecil. Alasannya sederhana: para pelanggan toko emas adalah orang kaya dan tabiat orang kaya selalu saja begitu: melihat segala sesuatu berdasarkan materi. Konsekwensinya, manusia juga ditakar secara serampangan dengan barometer kekayaan. Yang kaya adalah boss, kemudian yang miskin menjadi warga kelas dua, tiga, empat dan seterusnya. Dan, hari itu, adalah hari terakhir ayah di toko emas pamannya karena satu hal: mengusir pelanggan dari toko. Ayah tidak dikeluarkan dari toko karena dia bekerja di toko pamannya sendiri. Yang dilakukan ayah saat itu adalah memilih keluar.

Sejak mendengar kisah tersebut, aku percaya pada kebijaksanaan konvensional bahwa mereka yang idealis, hidupnya susah. Karena memang, setelah itu, kerja ayah tak pernah jauh dari pinggiran jalan. Pernah pada KTP ayah tertulis pekerjaan sebagai wartawan. Namun, itu hanya sebentar, karena setelah itu ayah meninggalkannya dan lebih memilih berjualan yang—lagi-lagi—terkait dengan pinggir jalan.

Menjadi wartawan memang keren. Aku pun dengan sangat bangga mengatakan bahwa ayahku dulunya adalah wartawan. Namun, saat itu, gaji wartawan tak sebanding dengan jerih payah mereka. Terutama bagi kepala sekaligus tulang punggung rumah tangga. Perhitungan gaji berbanding jam kerja adalah hal realistis yang dipikirkan mereka yang idealis sekalipun. « Read the rest of this entry »

Advertisements

9 Wasiat untuk 10 Hari Baik

October 16, 2012 § Leave a comment

“Demi fajar dan demi malam-malam yang sepuluh.”

Tidak berlebihan jika sepuluh hari awal dzulhijjah ini dijadikan momentum. Sepuluh hari yang mana amalan manusia lebih dicintai Allah pada hari-hari ini ketimbang hari lainnya. Bahkan melebihi jihad sendiri. Keutamaan amal pada hari ini hanya dikalahkan oleh amalan mereka yang keluar dari rumah dengan segala yang mereka miliki: jiwa dan harta; kemudian berjuang di jalan Allah dan tidak kembali sama sekali. (atau sebagaimana sabda Rasul pada Hadits Riwayat Tirmidzi, dishahihkan Al-Albany).

Dan, untuk sepuluh hari ini, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Setidaknya ada sembilan poin yang diwasiatkan para ulama:

Pertama, memanfaatkan detik-detik pada waktu ini semaksimal mungkin. Jadikan hari ini momentum latihan. Semoga setelah keluar dari hari ini, kita akan terbiasa dengan apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Dan, ini bukan berarti hanya beramal pada hari-hari ini saja dan setelahnya merdeka, boleh melakukan apapun. Namun, jadikan hari ini sebagai tempat latihan. Lakukan ibadah sebaik dan semaksimal mungkin. Sekiranya masih ada yang kurang setelah usaha maksimal, Allah yang akan menyempurnakan amal shaleh kita. Falhamdulillahil ladzi bini’matihi tatimmus shaalihat (segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya sempurna amal-amal shaleh).

« Read the rest of this entry »

Memperingati, Bukan Mengimitasi

November 26, 2011 § 2 Comments

Sudah tentu hal yang akan saya tulis ini bernilai baik. Kita berniat menyelisihi tradisi yang disuguhkan oleh dunia barat setiap tahunnya. Jika mereka merayakan semeriah mungkin malam 1 Januari, maka untuk tidak meniru mereka, kita tak perlu berbuat apa-apa; atau kita menggantinya dengan refleksi diri satu tahun ke belakang dan persiapan untuk satu tahun ke depan. Dalam hati, kita berbahagia karena telah berhasil meninggalkan imitasi (tasyabbuh) terhadap tradisi yang sama sekali tak ada akarnya dari pendahulu kita.

Kemudian, di hari lainnya pada malam 1 Muharram yang kita semua tahu menjadi awal tahun milik umat Islam, kita melakukan selebrasi besar-besaran memperingatinya. Kita ajak sanak family keluar rumah pada akhir malam bulan Dzulhijjah sambil makan malam, atau pesta, atau jalan-jalan, sembari menunggu pukul 00:01 sebagai pergantian tahun. Tanpa sadar, kita meniru tradisi yang pada awalnya hendak dijauhi. Hanya saja  kali ini, tradisi itu dilakukan pada tanggal yang berbeda—cara yang sama. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with moment at jannahTees.