December: Save the Best for the Last

December 1, 2017 § Leave a comment

20171204_0926061189941684.jpg

Banyak momen menarik pada permulaan bulan ini. Pertama, Faris genap berusia satu tahun. Kedua, terlepas dari ikhtilaf yang ada, 1 Desember ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ketiga, hari ini menutup November Challenge saya. Dan, keempat, bulan ini adalah bulan penghabisan di 2017. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Kebahagiaan yang Tidak Berubah [NC#9]

November 9, 2017 § Leave a comment

Bukittinggi

Dulu waktu masih sekolah dasar, saya sudah bisa bahagia ketika bisa menikmati makanan ringan bernama krip-krip. Saat itu harganya masih 25 rupiah. Itulah makanan favorit saya. Tiada hari tanpa krip-krip. Saking sukanya, saya bela-belain makan diam-diam. Saat jam pelajaran. Tindak kriminal paling jahat yang saya lakukan saat itu. Dengan makanan seharga itu, saya sudah bisa bahagia. « Read the rest of this entry »

Romantisasi dan Pernikahan [NC#2]

November 2, 2017 § Leave a comment

Romantisasi

Tulisan saya berikut akan lebih banyak sok-mantapnya daripada bijaksana. Sebab saya akan menulis hal berbau romantis, relationship, pernikahan dan semacamnya. Sebagai lulusan jomblo akut and proud, saya pikir tidak ada salahnya memberikan pandangan pribadi tentang hal romantis. Seperti kata teman-teman, dua kelompok orang yang paling hebat dalam memberikan nasihat cinta: pertama, jomblo; dan kedua jomblo yang baru saja menikah. Terserah kalau saya mau masuk dua-duanya juga.

Sejak dulu, saya kurang suka dengan hal-hal romantis, baik itu berbentuk novel, serial, sinetron, atau kehidupan nyata, apalagi yang dipaksakan dan berakhir alay. Dan belakangan ini saya membaca cukup banyak status anak-anak muda periode now yang berbicara urusan romantis dalam pernikahan. Wajar sih, mengingat usia yang masih sekian. Tidak wajarnya karena status-status tersebut terlalu mengada-ada untuk usia mereka yang, boro-boro membahas romantisnya pernikahan, proposal skripsi saja belum kelar.

Sebagai contoh begini, “Ukhti, kelak jika kita menikah, kita akan berlomba, apakah aku yang akan membangunkanmu untuk shalat malam atau engkau yang lebih dulu memercikan air di mukaku.” « Read the rest of this entry »

LDR yang Berfaedah

October 30, 2017 § 3 Comments

ldr-e1509320561306.jpgSaya kembali LDR. Tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini LDR saya pangkat dua. Sebelumnya saya berpisah dengan istri karena saat itu dia masih kuliah. Sekarang saya harus menanggung rindu pada istri juga pada anak. Kangen istri bisa sedikit terobati dengan telponan seperti yang banyak dilakukan pasangan LDR. Namun, kangen anak adalah hal lain lagi. Bukan saja karena anak saya masih 11 bulan sehingga tidak mungkin menelpon, tapi, seperti kata orang-orang, rindu pada anak itu luar biasa. Susah diungkapkan. Sebelum punya anak, saya tak tahu tahu rasanya rindu anak. Sekarang, saya tak bisa menceritakan bagaimana rasanya rindu anak.

LDR kali ini bukan jangka panjang memang. Paling tidak dua pekan lagi saya akan menyusul ke kampung. Namun dua pekan untuk menahan rindu pada dua orang yang kalian cintai, terasa tahunan. Terutama pada hari-hari serupa sekarang: akhir pekan. Di hari kerja mungkin tak menjadi masalah karena sebagian besar waktu saya habis di kantor. Berangkat pagi pulang sore. Tiba di rumah, mandi, ke masjid, makan, tidur dan tiba-tiba saja sudah besok. Namun di akhir pekan, waktu berjalan super lambat. LDR menciptakan anomali. Jika orang-orang berharap datangnya akhir pekan, saya malah berharap akhir pekan cepat selesai. Menurut saya TGIF saja tidak cukup, tapi harus TGIFAIHPILWMFW, Thanks God It’s Friday And I Have People I Love With Me For Weekend. Sebab jika hanya TGIF, tentunya yang belum punya pasangan juga ikut bahagia dengan wiken. Jadi teringat masa-masa jomblo dulu (pfff..).

Tapi saya tidak akan menulis kegalauan seorang LDR. Sudah terlalu banyak status galau bertebaran di sosial media. Saya ingin menulis tentang sisi lainnya. « Read the rest of this entry »

The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

1

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Ubuntu: I am Because We Are

July 20, 2012 § 3 Comments

Sebelum Eropa atau bangsa lainnya menjejakkan kaki di selatan Afrika, sudah ada satu suku mendiami kawasan tersebut. Suku Xhosa nama suku itu. Hingga kini, suku dengan ras asli Afrika itu masih eksis.
Beberapa waktu lalu, pernah seorang antropolog mendatangi pedalaman Afrika. Singgah di perkampungan Xhosa dan bertemu dengan penduduk setempat. Saat bertemu dengan anak-anak Xhosa, sang antropolog mengadakan sebuah lomba.

Sekeranjang penuh buah-buahan diletakkannya di bawah sebuah pohon. “Siapapun yang bisa sampai ke pohon tersebut pertama kali,” ujar Sang Antropolog, “adalah pemenangnya. Dia berhak mendapatkan seluruh buah.”

Serupa dengan lomba pada umumnya, tentu setiap peserta bersiap-siap. Namun, ketika lomba dimulai, anak-anak Xhosa saling bergandengan tangan satu sama lain. Mereka lari bersama-sama. Serempak hingga garis finish. Tak ada yang kalah dalam lomba tersebut. Semua tiba di garis akhir dalam waktu bersamaan. Semua menjadi pemenang. « Read the rest of this entry »

Habibie dan Ainun

November 23, 2011 § Leave a comment

Buku ini adalah bukti sungguhan bahwa fakta ternyata memang lebih menarik ketimbang fiksi. Membaca buku ini, seperti menyelami banyak dunia dalam satu cerita. Saya tidak berlebihan pada sosok yang memang banyak memiliki kelebihan. Bahwa kisah Habibie dan Ainun, jika mau jujur, telah melampaui Romeo Juliet hingga Layla Majnun.

At the touch of love, everyone becomes poet —Plato

Ada banyak dimensi yang dimuat oleh Pak Habibie dalam buku ini. Jika ingin klasifikasi secara global, buku ini memiliki dua cerita terpisah yang kemudian terangkai dalam lika-liku dua manusia biasa menjadi satu kisah luar biasa.

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with love at jannahTees.