The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Ubuntu: I am Because We Are

July 20, 2012 § 3 Comments

Sebelum Eropa atau bangsa lainnya menjejakkan kaki di selatan Afrika, sudah ada satu suku mendiami kawasan tersebut. Suku Xhosa nama suku itu. Hingga kini, suku dengan ras asli Afrika itu masih eksis.
Beberapa waktu lalu, pernah seorang antropolog mendatangi pedalaman Afrika. Singgah di perkampungan Xhosa dan bertemu dengan penduduk setempat. Saat bertemu dengan anak-anak Xhosa, sang antropolog mengadakan sebuah lomba.

Sekeranjang penuh buah-buahan diletakkannya di bawah sebuah pohon. “Siapapun yang bisa sampai ke pohon tersebut pertama kali,” ujar Sang Antropolog, “adalah pemenangnya. Dia berhak mendapatkan seluruh buah.”

Serupa dengan lomba pada umumnya, tentu setiap peserta bersiap-siap. Namun, ketika lomba dimulai, anak-anak Xhosa saling bergandengan tangan satu sama lain. Mereka lari bersama-sama. Serempak hingga garis finish. Tak ada yang kalah dalam lomba tersebut. Semua tiba di garis akhir dalam waktu bersamaan. Semua menjadi pemenang. « Read the rest of this entry »

Habibie dan Ainun

November 23, 2011 § Leave a comment

Buku ini adalah bukti sungguhan bahwa fakta ternyata memang lebih menarik ketimbang fiksi. Membaca buku ini, seperti menyelami banyak dunia dalam satu cerita. Saya tidak berlebihan pada sosok yang memang banyak memiliki kelebihan. Bahwa kisah Habibie dan Ainun, jika mau jujur, telah melampaui Romeo Juliet hingga Layla Majnun.

At the touch of love, everyone becomes poet —Plato

Ada banyak dimensi yang dimuat oleh Pak Habibie dalam buku ini. Jika ingin klasifikasi secara global, buku ini memiliki dua cerita terpisah yang kemudian terangkai dalam lika-liku dua manusia biasa menjadi satu kisah luar biasa.

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with love at jannahTees.