Beragama Jangan Pilih-pilih

December 5, 2017 § Leave a comment

colorful

Buya Hamka pernah ditanya oleh salah satu jamaahnya,

“Buya, kita sama-sama sudah tahu, bahwa Al Quran menyebutkan solat dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Namun, fakta yang saya dapati berbeda. Saya punya dua orang tetangga. Tetangga pertama seorang pak haji, rajin ke surau, senantiasa mengaji, tak pernah ketinggalan solat jamaah. Namun, saat anak-anak sini bermain di pekarangan rumahnya, malah omelan yang keluar dari mulut pak haji.

Tetangga saya yang satunya lagi seorang dokter. Bukan orang soleh, jarang ke surau, apalagi mengaji. Satu-satunya waktu beribadah yang saya bertemu dengannya adalah solat Ied. Selain itu entahlah apa dia solat atau tidak. Namun, ketika anak-anak bermain di pekarangannya, dokter itu membiarkan mereka. Tidak seperti pak haji yang menceracau kesana kemari; dokter yang jarang solat itu malah ramah. Dimana bukti solat mencegah perbuatan keji dan mungkar, Buya?” « Read the rest of this entry »

Advertisements

Zakat dan Pisang [NC #14]

November 14, 2017 § Leave a comment

Kulit-Pisang

Di tempat kerja kami terjadi pergantian pimpinan. Begitulah waktu, benar-benar tanpa ampun. Sehebat apapun manusia, jika bertemu dengan waktu, mereka tak sedikitpun punya kuasa memperlambat, apalagi menghentikan.

Pimpinan yang lama pensiun, diganti dengan pimpinan baru. Salah satu hal yang saya suka dari pimpinan baru ini adalah tindakannya yang lugas. Simpel. Interuksi yang diberikan jelas, jika salah langsung ditegur dan jika benar tak sungkan-sungkan, beliau langsung menyebut nama kami, orang-orang biasa, ini di forum besar. Diantara hal yang lugas dari pidatonya tadi adalah bahasan tentang zakat.

Zakat itu ibarat kita makan pisang. Begitu analoginya membuka pembicaraan. Pidato tersebut terkait gaji karyawan yang sudah melebihi nisab, perlu dikeluarkan zakatnya. Ibaratnya pisang, tak ada manusia yang memakan seutuhnya, karena memang bukan seluruhnya buat kita. Kulitnya perlu dikupas terlebih dahulu. Itu bukan untuk kita. Maka kulit pisang bisa dijadikan pupuk untuk tumbuhan atau makanan untuk ternak.

Begitu juga harta. Penghasilan yang kita peroleh, tak seratus persen untuk kita konsumsi. Ada hak orang lain di sana yang perlu dikeluarkan sebelum harta tersebut dimakan. Hanya sedikit. 2,5%. Dengan artian jika penghasilan kita 10 juta, hanya 250 ribu yang harus dikeluarkan. Berapalah 250 ribu dibanding 9.750.000 yang bisa dinikmati.

Zakat adalah kewajiban, dengan artian, tidak menunaikan zakat berarti menanggung dosa. Selain sebagai kewajiban kepada Allah, zakat memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap sesama. Menurut riset kecil-kecilan saya, diantara penyebab tindak kriminal adalah karena kesenjangan ekonomi. Orang kayanya lupa dengan yang miskin. Akibatnya, bagi yang miskin, harta orang kaya adalah sasaran.

Disamping sebagai kewajiban kepada Allah, dan bentuk sosial kepada sesama, jumlah zakat yang dikeluarkan itu juga sangat kecil. Agaknya, keterlaluan juga jika dari sekian banyak harta yang Allah beri buat kita, mengeluarkan hanya 2,5% kita juga tak mau.

Jika memang masih tidak mau, serupa analogi pimpinan saya tadi, kita ibaratnya makan pisang berikut kulitnya. Sakit perut? Ya, bisa jadi harta yang tidak dikeluarkan itu menjadi penyakit. Seperti orang yang maksa mau makan pisang berikut kulitnya. Ini baru analogi pisang, bagaimana jika analoginya durian.

Tenabang, 1.58 pm

Antara Karir dan Ibadah [NC#10]

November 10, 2017 § Leave a comment

Sebenarnya saya tidak tahu akan menulis apa hari ini. Kemarin satu hari saya sama sekali tidak menulis. Kata orang, hal-hal yang “terlalu” tidak baik buat otak. Terlalu sedih membuat kita sulit berpikir, demikian juga terlalu bahagia. Dua hari terakhir ini agaknya saya terlalu bahagia sehingga pikiran menjadi random dan bingung apa yang harus saya ketik hari ini. « Read the rest of this entry »

Muslim Kelas Menengah

October 24, 2017 § Leave a comment

middle class muslimTadinya saya sempat berfikir, people who have less tend to give more. Semakin sedikit harta dimiliki seseorang, semakin banyak prosentasi yang dia sedekahkan. Contoh sederhana, seorang dengan penghasilan 3 juta sebulan berani bersedekah 300 ribu. Artinya, sedekah yang dia lakukan 10% dari total penghasilan. Namun, jika penghasilannya menjadi 100 juta sebulan, apakah siap untuk sedekah 10 juta? Fikiran tersebut ditambah lagi dengan beberapa eksperimen sosial yang sempat saya lihat di artikel atau youtube.

Saya masih berpendapat serupa demikian sampai seorang teman meminjamkan saya buku ini. Pendapat saya ada benarnya, namun tidak tepat untuk realita yang ada di Indonesia. Gallup World melakukan survey besar-besaran pada tahun 2009 lalu dan memaparkan data menarik. « Read the rest of this entry »

Migrasi Masalah

September 28, 2017 § Leave a comment

Ayah saya dulu pernah bilang, hidup itu ibarat berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya. Ini bukan ucapan pesimis. Ayah saya tidak pernah memperlihatkan laku pesimis dalam hidupnya. Tidak sekalipun, meski hidup entah sesulit apa waktu itu, ayah masih menjadi orang paling hebat menghadirkan senyum-senyum kami di rumah.

Ucapan tersebut tak lain tentang persiapan menghadapi hidup. Kita boleh (bahkan harus) berharap hal-hal terbaik terjadi dalam hidup. Namun, kita perlu bersiap terhadap kemungkinan terburuk sekalipun. « Read the rest of this entry »

Surga

September 4, 2017 § Leave a comment

Ibnul Jauzi, satu dari ulama terbaik di zamannya. Menulis lebih dari 2000 buku. 20 ribu Yahudi dan Nasrani masuk Islam melalui dia. 100 ribu lebih pendosa taubat setelah nasihat-nasihatnya. Dan saat bersama murid-muridnya, Ibnul Jauzi berkata,

“Jika kelak, kalian masuk surga dan tidak mendapati saya bersama kalian di sana. Mintalah kepada Allah dan sampaikan, Wahai Rabb bahwa hambamu ini pernah menyebut-nyebut nama-Mu bersama kami.”

Hari ini, kita sangat minimalis dalam beragama. Sebagian kita melaksanakan shalat lima waktu dan merasa telah dijanjikan surga. Sebagian lagi baru menghapal 40 hadis Nawawi lantas menyejajarkan diri dengan alim, syaikh dan mufti.

Ibn Rajab Al-Hanbali | Thabaqat Hanabilah

Sedekah

June 30, 2016 § Leave a comment

Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?
______________________________

Sebagaimana firman Allah:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ

“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}

Kenapa dia tdk mengatakan,
“Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau
“Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?

Berkata para ulama,
Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal…

Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya…

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

Dan, bersedekah-lah atas nama orang-orang yg sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka…

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim)

Oleh:
Syeikh Maher al’Mueaqly

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Islam at jannahTees.