Azan

April 3, 2018 § Leave a comment

sunset masjid

Heboh tentang puisi beberapa waktu belakangan menimbulkan reaksi yang cukup ramai. Ada yang istigfar sambil mengusap dada, ada yang marah besar. Ada yang mohonkan hidayah untuk simbok pembaca puisi dan ada pula yang menyumpah-serapahi. Ada yang, ah emang gue pikiran, dan ada yang, eh, gimana gimana? Lalu, saya? Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang yang baca puisi azan.

Azan (الأذان), dalam Fathul Baari, berarti pengumuman akan waktu shalat dengan lafaz yang khusus. Azan merupakan salah satu syiar yang paling mulia dalam Islam.

Imam Qurtubi mengatakan bahwa rangkaian kalimat dalam azan mengandung pesan-pesan penting agama ini. Azan dimulai dengan mengagungkan Allah. Dilanjut dengan dua syahadat, Rukun Islam pertama dan menjadi kunci keislaman seseorang. Lalu azan mengajak kepada salat (rukun Islam kedua) dan kepada falah. Kata falah mungkin boleh saya terjemahkan dengan kebahagiaan, happiness. Sebab yang saat ini tengah santer dicari seluruh manusia adalah happiness. Dan jawabannya ada pada azan. Kemudian kalimat azan kembali mengingatkan tentang salat lalu ditutup dengan takbir dan tahlil. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Beragama Jangan Pilih-pilih

December 5, 2017 § Leave a comment

colorful

Buya Hamka pernah ditanya oleh salah satu jamaahnya,

“Buya, kita sama-sama sudah tahu, bahwa Al Quran menyebutkan solat dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Namun, fakta yang saya dapati berbeda. Saya punya dua orang tetangga. Tetangga pertama seorang pak haji, rajin ke surau, senantiasa mengaji, tak pernah ketinggalan solat jamaah. Namun, saat anak-anak sini bermain di pekarangan rumahnya, malah omelan yang keluar dari mulut pak haji.

Tetangga saya yang satunya lagi seorang dokter. Bukan orang soleh, jarang ke surau, apalagi mengaji. Satu-satunya waktu beribadah yang saya bertemu dengannya adalah solat Ied. Selain itu entahlah apa dia solat atau tidak. Namun, ketika anak-anak bermain di pekarangannya, dokter itu membiarkan mereka. Tidak seperti pak haji yang menceracau kesana kemari; dokter yang jarang solat itu malah ramah. Dimana bukti solat mencegah perbuatan keji dan mungkar, Buya?” « Read the rest of this entry »

December: Save the Best for the Last

December 1, 2017 § Leave a comment

20171204_0926061189941684.jpg

Banyak momen menarik pada permulaan bulan ini. Pertama, Faris genap berusia satu tahun. Kedua, terlepas dari ikhtilaf yang ada, 1 Desember ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ketiga, hari ini menutup November Challenge saya. Dan, keempat, bulan ini adalah bulan penghabisan di 2017. « Read the rest of this entry »

Mengambil Masa Lalu [NC#12]

November 12, 2017 § Leave a comment

Siapa yang masih saja menempel dengan masa lalu disebut gagal move on. Namun, mereka yang melupakan masa lalu juga akan kesulitan belajar hidup. Mengingat masa lalu, sebagaimana obat, harus dengan komposisi dan waktu yang pas. « Read the rest of this entry »

Waktu [NC#11]

November 11, 2017 § Leave a comment

time lapse

Faris, anak saya yang berusia 11 bulan sudah mulai banyak melangkah tanpa bantuan. Setiap kali melihat perkembangan Faris, baik secara fisik, ucapan atau kelakuannya yang mulai memilih jika diberikan sesuatu, mengejar apa yang dia inginkan atau menolak saat tidak menginginkannya; saya sadar waktu benar-benar tak punya ampun. Terus bergulir tanpa henti. Engkau terlena, dilindas. « Read the rest of this entry »

Antara Karir dan Ibadah [NC#10]

November 10, 2017 § Leave a comment

Sebenarnya saya tidak tahu akan menulis apa hari ini. Kemarin satu hari saya sama sekali tidak menulis. Kata orang, hal-hal yang “terlalu” tidak baik buat otak. Terlalu sedih membuat kita sulit berpikir, demikian juga terlalu bahagia. Dua hari terakhir ini agaknya saya terlalu bahagia sehingga pikiran menjadi random dan bingung apa yang harus saya ketik hari ini. « Read the rest of this entry »

Cerita Nelayan dan Bankir [NC#5]

November 5, 2017 § Leave a comment

pulau-mandeh.jpg

Konon katanya cerita ini bukan fiktif. Saya pernah membaca kisah ini pada beberapa artikel. Berbeda artikel, berbeda pula tokoh ceritanya. Namun cerita tersebut memberikan makna yang sama berartinya. Inilah cerita nelayan dan bankir yang saya tulis ulang dengan versi sendiri.

Sebutlah seorang bankir cerdas dengan analisa finansialnya yang jeli dan intelijensi yang di atas rata-rata. Suatu ketika dia menghabiskan cuti tahunannya berlibur ke pulau indah di Sumatera Barat sana: Pulau Mandeh.

Di Pulau Mandeh tidak ada hotel. Para pelancong biasanya menyewa dan tinggal di rumah penduduk yang sebagian besarnya adalah para nelayan. Selain biaya yang terhitung lebih murah daripada hotel di tempat wisata, menginap di rumah penduduk memberikan makna baru dalam liburan. Selama liburan tersebut, bankir muda itu banyak berinteraksi dengan nelayan di sana. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hikmah at jannahTees.