The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Dear Diary: Refleksi

July 6, 2012 § Leave a comment

Dua hari lalu, setelah merampungkan tugas, saya bingung mau berbuat apa. Saya baru beberapa hari di tempat ini. Berbicara dengan staf lain, mereka sibuk dengan kerja masing-masing. Hanya ada komputer yang tak terkoneksi internet di meja saya. Isinyapun itu-itu saja. Hardisk D hanya terisi setengah megabyte oleh tulisan dan laporan. Hardisk C berisi program standar. Tak ada file video yang  bisa ditonton. Tak pula ada file audio yang bermutu. Hanya beberapa lagu barat di folder musik—yang mendengarnya sama sekali tidak memperbaiki mood. Saya membuka Ms. Word, membuat dunia baru dalam susunan kata.

Teman saya terbahak ketika mendengar jawaban dari pertanyaannya, “Jadi, kalo ga ada kerjaan, kamu ngapain?” dan saya menjawab: nulis diari.

Oke. Postingan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan lagu picisan remaja beberapa tahun lalu. Kata “diari” agaknya terdengar kurang match untuk seorang laki-laki, tidak lagi remaja dan berjenggot. Jika diganti dengan istilah “jurnal harian”, mungkin lebih cocok. Tapi apalah bedanya. “The rose,” kata Shakespeare, “with any other name, would smell as sweet”. « Read the rest of this entry »

Bahabbik Ya ‘Asal Iswid

January 21, 2012 § Leave a comment

Sudah lewat pula Muharram dan Safar tersisa tiga hari baru sekarang aku bisa mengetikkan kata pertahun 1433 atau 2012 di blog ini. Blogging menjadi seperti sulit sekali. Sejatinya tidak, hanya langkah awal saja yang berat karena aku sendiri sudah mencoba. Setelah langkah pertama, menulis mampu mengalir dengan lancar serupa air yang batu-batu kali besar pun mampu terlewati dengan mudah. Tentang menulis, aku percaya, setelah kemauan ada, keindahan adalah perkara nomor dua. Karena ayah pernah  bertitip pesan sederhana sekali: setiap hari sisihkan waktu dua jam saja untuk menulis. Sederhana, namun pelaksanaannya sering terabaikan. Hal yang sama untuk blog ini.
Dan aku menulisi lagi. Pagi ini, berjarak hanya 6 hari saja antara aku dan keberangkatan pulang ke Indonesia. Ada banyak kenangan belum tertulis yang hendak dicecahkan di sini. Mesir, ‘asal iswid, terbungkus warnanya yang hitam, namun serupa kata orang, fiiha haagah hilwa. Dan benar, Mesir menyimpan banyak mutiara yang belum terjamah sama sekali oleh ku.

Logis

December 1, 2011 § Leave a comment

Siang yang dingin, selang beberapa menit usai azan Zuhur berkumandang, aku berpapasan dengan Pak Krisna Purwana, penulis buku best seller “Akhirnya Tertawa Juga”. Beliau sengaja datang ke sini untuk sarasehan Nasional yang akan diadakan sore nanti. Di sini, beliau menginap di Wisma Nusantara. Bangunan yang sama dimana aku tinggal; hanya saja, beliau menginap di hotel, aku di kamar pengurus.

Selain Pak Krisna beserta beberapa orang temannya dari Kominfo, di Wisma saat ini juga ada sejumlah jari tangan pegawai Departemen Agama. Kedatangan mereka ke sini untuk program pembelajaran. Aku tak tahu pasti pembelajaran dengan tema apa, yang jelas tak akan jaun dengan kajian keagamaan. Aku sempat melihat jadwal kegiatan rombongan Depag yang kuperoleh dari Pak Harjani, penulis buku “7 Islamic Dayly Habits”, salah satu mentor program tersebut adalah Hasan Hanafi. Karena itu aku sebut tema pembelajaran mereka tak jauh dengan kajian ke(ber)agamaan—harusnya ke-Islam-an.

Kembali kepada lokasi tangga di siang yang dingin tadi. Aku bersegera menyalami Pak Krisna. Bukan karena aku mengenal beliau. Aku hanya tahu nama Pak Krisna dari buku beliau dan pamphlet yang tersebar di jejaring sosial. Sama sekali aku tidak tahu bahwa bapak dengan perawakan tinggi itu adalah Krisna Purwana. « Read the rest of this entry »

Khidmat

October 18, 2011 § Leave a comment

Wisuda kami, mahasiswa Indonesia di Al-Azhar tamatan 2011 yang diselenggarakan oleh PPMI, WIHDAH dan didukung penuh oleh KBRI.
 
Apa yang diharapkan dari wisuda ini? Motivasi. Itu hal pertama yang ku tangkap dari temanku yang saat ini belum rejeki wisuda. Aku sendiri pernah merasakan hal yang sama, tentang motivasi, dua tahun lalu saat—harus—hadir acara wisuda dan haflah khirrijin karena almamaterku masuk nominasi almamater terbaik. Saat itu, aku benar-benar termotivasi untuk belajar lebih giat. Belajar maksudku di sini mengandung target nilai capaian. Namun, boro-boro sampai ujian, motivasi itu hanya bertahan bahkan sebelum aku masuk menginjakkan kakiku di kamar. Memang benar, motivasi yang bukan karena Allah tak akan pernah bertahan lama.
 
Entahlah, namun, menurutku, teman itu juga akan merasakan kejadian yang tak jauh beda dengan apa yang ku rasakan dua tahun silam. Karena memang demikian naturalnya, motivasi tak pernah bertahan lama.

Istiqamah

September 26, 2011 § Leave a comment

And this is not a female’s name. This is literally istiqamah that I’ve been wondering how to achieve it.
 
Here’s the topic. One of the strangest things that happens to human being—at least it’s happened to me many times—is inner struggle. Anthonny Robbins called it inner civil war. Whatever the name, the rose by any other names still smells as sweet. And inner struggle, by any other names is still a complicated problem so difficult to understand. The problem only happens inside your body. Nope, not inside your body, it just takes some small parts of your body. Inner struggle engages eather in your head or your heart. But it can take control all your bodies, more than it: your whole world!
 
Let me tell you about two different personalities based on what I got after not—so—serious research. This is what Magneto said to Xavier. Sorry for quoting X-Men dialogue, but, this is true. Magneto said, “You are idealist, Charles. And I am realist”.
 
This is it. Me, as well as any average human being in this world, have idealist concept. No matter how un-ideal a person is, he/she already had an idealism. Even the one who’s so called crusty (in England) or anti-establishment or anti-idealism (is that a real term?) they too have idealism. I laughed at my friend when he wrote down on his note: I have no rule. The only rule I have is there’s no rule. I got the point, that was his idalism: no-rule idealism.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with diary at jannahTees.