Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Dear Diary: Refleksi

July 6, 2012 § Leave a comment

Dua hari lalu, setelah merampungkan tugas, saya bingung mau berbuat apa. Saya baru beberapa hari di tempat ini. Berbicara dengan staf lain, mereka sibuk dengan kerja masing-masing. Hanya ada komputer yang tak terkoneksi internet di meja saya. Isinyapun itu-itu saja. Hardisk D hanya terisi setengah megabyte oleh tulisan dan laporan. Hardisk C berisi program standar. Tak ada file video yang  bisa ditonton. Tak pula ada file audio yang bermutu. Hanya beberapa lagu barat di folder musik—yang mendengarnya sama sekali tidak memperbaiki mood. Saya membuka Ms. Word, membuat dunia baru dalam susunan kata.

Teman saya terbahak ketika mendengar jawaban dari pertanyaannya, “Jadi, kalo ga ada kerjaan, kamu ngapain?” dan saya menjawab: nulis diari.

Oke. Postingan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan lagu picisan remaja beberapa tahun lalu. Kata “diari” agaknya terdengar kurang match untuk seorang laki-laki, tidak lagi remaja dan berjenggot. Jika diganti dengan istilah “jurnal harian”, mungkin lebih cocok. Tapi apalah bedanya. “The rose,” kata Shakespeare, “with any other name, would smell as sweet”. « Read the rest of this entry »

Bahabbik Ya ‘Asal Iswid

January 21, 2012 § Leave a comment

Sudah lewat pula Muharram dan Safar tersisa tiga hari baru sekarang aku bisa mengetikkan kata pertahun 1433 atau 2012 di blog ini. Blogging menjadi seperti sulit sekali. Sejatinya tidak, hanya langkah awal saja yang berat karena aku sendiri sudah mencoba. Setelah langkah pertama, menulis mampu mengalir dengan lancar serupa air yang batu-batu kali besar pun mampu terlewati dengan mudah. Tentang menulis, aku percaya, setelah kemauan ada, keindahan adalah perkara nomor dua. Karena ayah pernah  bertitip pesan sederhana sekali: setiap hari sisihkan waktu dua jam saja untuk menulis. Sederhana, namun pelaksanaannya sering terabaikan. Hal yang sama untuk blog ini.
Dan aku menulisi lagi. Pagi ini, berjarak hanya 6 hari saja antara aku dan keberangkatan pulang ke Indonesia. Ada banyak kenangan belum tertulis yang hendak dicecahkan di sini. Mesir, ‘asal iswid, terbungkus warnanya yang hitam, namun serupa kata orang, fiiha haagah hilwa. Dan benar, Mesir menyimpan banyak mutiara yang belum terjamah sama sekali oleh ku.

Logis

December 1, 2011 § Leave a comment

Siang yang dingin, selang beberapa menit usai azan Zuhur berkumandang, aku berpapasan dengan Pak Krisna Purwana, penulis buku best seller “Akhirnya Tertawa Juga”. Beliau sengaja datang ke sini untuk sarasehan Nasional yang akan diadakan sore nanti. Di sini, beliau menginap di Wisma Nusantara. Bangunan yang sama dimana aku tinggal; hanya saja, beliau menginap di hotel, aku di kamar pengurus.

Selain Pak Krisna beserta beberapa orang temannya dari Kominfo, di Wisma saat ini juga ada sejumlah jari tangan pegawai Departemen Agama. Kedatangan mereka ke sini untuk program pembelajaran. Aku tak tahu pasti pembelajaran dengan tema apa, yang jelas tak akan jaun dengan kajian keagamaan. Aku sempat melihat jadwal kegiatan rombongan Depag yang kuperoleh dari Pak Harjani, penulis buku “7 Islamic Dayly Habits”, salah satu mentor program tersebut adalah Hasan Hanafi. Karena itu aku sebut tema pembelajaran mereka tak jauh dengan kajian ke(ber)agamaan—harusnya ke-Islam-an.

Kembali kepada lokasi tangga di siang yang dingin tadi. Aku bersegera menyalami Pak Krisna. Bukan karena aku mengenal beliau. Aku hanya tahu nama Pak Krisna dari buku beliau dan pamphlet yang tersebar di jejaring sosial. Sama sekali aku tidak tahu bahwa bapak dengan perawakan tinggi itu adalah Krisna Purwana. « Read the rest of this entry »

Khidmat

October 18, 2011 § Leave a comment

Wisuda kami, mahasiswa Indonesia di Al-Azhar tamatan 2011 yang diselenggarakan oleh PPMI, WIHDAH dan didukung penuh oleh KBRI.
 
Apa yang diharapkan dari wisuda ini? Motivasi. Itu hal pertama yang ku tangkap dari temanku yang saat ini belum rejeki wisuda. Aku sendiri pernah merasakan hal yang sama, tentang motivasi, dua tahun lalu saat—harus—hadir acara wisuda dan haflah khirrijin karena almamaterku masuk nominasi almamater terbaik. Saat itu, aku benar-benar termotivasi untuk belajar lebih giat. Belajar maksudku di sini mengandung target nilai capaian. Namun, boro-boro sampai ujian, motivasi itu hanya bertahan bahkan sebelum aku masuk menginjakkan kakiku di kamar. Memang benar, motivasi yang bukan karena Allah tak akan pernah bertahan lama.
 
Entahlah, namun, menurutku, teman itu juga akan merasakan kejadian yang tak jauh beda dengan apa yang ku rasakan dua tahun silam. Karena memang demikian naturalnya, motivasi tak pernah bertahan lama.

Istiqamah

September 26, 2011 § Leave a comment

And this is not a female’s name. This is literally istiqamah that I’ve been wondering how to achieve it.
 
Here’s the topic. One of the strangest things that happens to human being—at least it’s happened to me many times—is inner struggle. Anthonny Robbins called it inner civil war. Whatever the name, the rose by any other names still smells as sweet. And inner struggle, by any other names is still a complicated problem so difficult to understand. The problem only happens inside your body. Nope, not inside your body, it just takes some small parts of your body. Inner struggle engages eather in your head or your heart. But it can take control all your bodies, more than it: your whole world!
 
Let me tell you about two different personalities based on what I got after not—so—serious research. This is what Magneto said to Xavier. Sorry for quoting X-Men dialogue, but, this is true. Magneto said, “You are idealist, Charles. And I am realist”.
 
This is it. Me, as well as any average human being in this world, have idealist concept. No matter how un-ideal a person is, he/she already had an idealism. Even the one who’s so called crusty (in England) or anti-establishment or anti-idealism (is that a real term?) they too have idealism. I laughed at my friend when he wrote down on his note: I have no rule. The only rule I have is there’s no rule. I got the point, that was his idalism: no-rule idealism.

Ikhtitam

June 24, 2011 § Leave a comment

“Hatta law thabakhna mi-ah kilo ruzz, lan yakfî…” kata temanku sambil menyuap nasi dengan gaya makan khas Afrika-nya. Ya, di masjid ini selalu ada Mâidatur Rahmân, istilah untuk hidangan gratis setiap Senin-Kamis bagi mereka yang puasa. Namun, seperti kata temanku tadi, meskipun kita masak seratus kilo nasi setiap pekan, tak akan pernah cukup. Kenapa? Karena lokasi masjid ini terletak di tengah pasar!

Masjid ‘Imâdul Islâm, Attaba. Bagi yang pernah membaca novel Ayat² Cinta mungkin pernah mendengar nama tempat ini. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Attaba—kurang-lebih—berarti Pasar Tanah Abang, jika dalam bahasa kampungku: Pasa Aua Kuniang.

Di sinilah, di area pasar tradisional Kairo inilah aku bersama teman-teman hingga malam larut oleh pekat. Bukan untuk transaksi jual-beli. Juga bukan untuk mengejar Mâidatur rahmân di Masjid Imadul Islam. Namun, karena undangan dari temanku, Kakazo yang mengadakan Haflah Ikhtitam a.k.a perayaan khataman karena dia beserta beberapa teman lainnya telah merampungkan 30 juz Al Quran dalam waktu yang—subhanallah—hanya empat bulan. Sebagian lain telah mendapatkan sanad Qira`ah ‘Asyrah (sepuluh riwayat yang paling banyak digunakan dalam membaca Al Quran).

Aku teringat pada momen 12 tahun silam. Saat masih sekolah dasar, di kampungku juga diadakan perayaan ikhtitam setiap satu atau dua tahun. Masih SD aku saat itu, merayakan haflah ikhtitam bersama teman-teman seumuranku. Namun, bukan ikhtitam karena telah menghapal, melainkan karena telah merampungkan program belajar mengaji dan berhak mendapat ijazah dari Taman Pendidikan Al Quran. Tentu saja ini tidak sama. Sebab, aku sempat katakan kepada ayah bahwa Khatam Quran di kampung kita, tidak lain adalah perayaan dibolehkannya anak-anak untuk tidak lagi membaca Al Quran setiap hari. Karena memang, setelah itu, aku bersama teman-teman satu tempat mengaji, tidak lagi rutin membaca Al Quran, membawa atau—paling tidak—sekedar mendekap Al Quran di dada setiap pukul dua siang setiap hari.
« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with diary at jannahTees.