Aku Rindu dengan Zaman Itu

July 26, 2013 § Leave a comment

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.
Aku rindu zaman ketika membina adalah
kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.
Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.
Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan.
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan.
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan.
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.
Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebanggaan.
Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah kerinduan,
dan terlambat adalah kelalaian.
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak
mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta
sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan MENANGIS karena tak bisa hadir di liqo’.
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.
Aku rindu zaman itu,
Aku rindu…
Ya ALLAH,
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari
hati-hati kami.
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di
tempat yang sama.

 

oleh: Ust. Rahmat Abdullah

Si Abang dan Sang Paman

May 29, 2013 § 3 Comments

Hari ini, enam tahun yang lalu adalah hari terakhir kami bersama ayah. Saya tulis kembali satu diantara cerpen ayah yang sangat dekat dengan  hidup dan kepribadian beliau. Berjudul Si Abang dan Sang Paman. Dimuat di Kompas, pada Minggu 2 Februari 1997. Allahummaghfir lahu.

[] [] []

Si Abang dan Sang Paman

Cerpen Abdulkadir Linin

Si Abang dan Sang PamanSEBELUM menikah memang Si Abang sudah bilang. “Kalau Ani mau menikah dengan saya hanya karena saya punya kedudukan bagus pada perusahaan Paman, saya rasa lebih baik tidak jadi saja, sebab saya sewaktu-waktu bisa berhenti. Saya tidak bisa tersinggung. Kalau saya tersinggung, saya tidak peduli siapa. Biasanya saya mesti melawan.” Ternyata ucapan si Abang bukan sekadar tes mental. Tidak genap dua tahun sesudah menikah, si Abang berhenti dari perusahaan pamannya. Menganggur beberapa bulan. Pulang kampung. Kemudian dengan modal sisa uang yang ada, tunggang-langgang berjualan barang imitasi di kaki lima untuk memenuhi biaya hidup yang makin membengkak karena kenaikan harga barang, dan jadi lebih berat lagi karena lahirnya anak-anak. Sementara itu, jika ada orang pulang kampung dari Jakarta, selalu membawa kabar, bahwa sang paman makin kaya saja. Kabarnya, sekarang, kekayaannya bukan lagi milyar, tapi triliun! Bahkan kabarnya tahun lalu, biaya naik haji si Maryam, Pak Agus dan Bu Neti, separuhnya sang Pamanlah yang membantu.

Si Abang sama sekali tidak goyah dengan kabar itu. Dia tetap dengan kebiasaannya: pagi-pagi ke pasar membawa dagangannya dan beberapa buku. Menunggui dagangannya sambil baca buku. Pulang di sore hari memberikan seberapa penghasilannya kepada Ani. Sejenak bersenda-gurau dengan anak-anak. Lalu hanyut lagi dengan buku sendirian di ruang tamu.

Lain halnya dengan Ani. Kabar itu membuat dia gelisah. Apalagi ketika bulan puasa sang paman pulang kampung. Tetangga-tetangga berdatangan menjenguknya sambil bersabar menunggu sang paman mencabut dompet, kemudian menabur uang yang diberi nama zakat. Dulu lima ribu per kepala. Tahun kemarin, kabarnya naik jadi sepuluh ribu. « Read the rest of this entry »

Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

July 27, 2012 § Leave a comment

Menarik untuk dibaca. Meminta-minta memang terlihat lebih gampang, namun bekerja, dengan hasil sedikit atau banyak, membawa kepada kemuliaan. Dan setelah usaha, masalah rezki serahkan pada Allah.

Catatanku

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli…

View original post 693 more words

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with copas at jannahTees.