Si Abang dan Sang Paman

May 29, 2013 § 3 Comments

Hari ini, enam tahun yang lalu adalah hari terakhir kami bersama ayah. Saya tulis kembali satu diantara cerpen ayah yang sangat dekat dengan  hidup dan kepribadian beliau. Berjudul Si Abang dan Sang Paman. Dimuat di Kompas, pada Minggu 2 Februari 1997. Allahummaghfir lahu.

[] [] []

Si Abang dan Sang Paman

Cerpen Abdulkadir Linin

Si Abang dan Sang PamanSEBELUM menikah memang Si Abang sudah bilang. “Kalau Ani mau menikah dengan saya hanya karena saya punya kedudukan bagus pada perusahaan Paman, saya rasa lebih baik tidak jadi saja, sebab saya sewaktu-waktu bisa berhenti. Saya tidak bisa tersinggung. Kalau saya tersinggung, saya tidak peduli siapa. Biasanya saya mesti melawan.” Ternyata ucapan si Abang bukan sekadar tes mental. Tidak genap dua tahun sesudah menikah, si Abang berhenti dari perusahaan pamannya. Menganggur beberapa bulan. Pulang kampung. Kemudian dengan modal sisa uang yang ada, tunggang-langgang berjualan barang imitasi di kaki lima untuk memenuhi biaya hidup yang makin membengkak karena kenaikan harga barang, dan jadi lebih berat lagi karena lahirnya anak-anak. Sementara itu, jika ada orang pulang kampung dari Jakarta, selalu membawa kabar, bahwa sang paman makin kaya saja. Kabarnya, sekarang, kekayaannya bukan lagi milyar, tapi triliun! Bahkan kabarnya tahun lalu, biaya naik haji si Maryam, Pak Agus dan Bu Neti, separuhnya sang Pamanlah yang membantu.

Si Abang sama sekali tidak goyah dengan kabar itu. Dia tetap dengan kebiasaannya: pagi-pagi ke pasar membawa dagangannya dan beberapa buku. Menunggui dagangannya sambil baca buku. Pulang di sore hari memberikan seberapa penghasilannya kepada Ani. Sejenak bersenda-gurau dengan anak-anak. Lalu hanyut lagi dengan buku sendirian di ruang tamu.

Lain halnya dengan Ani. Kabar itu membuat dia gelisah. Apalagi ketika bulan puasa sang paman pulang kampung. Tetangga-tetangga berdatangan menjenguknya sambil bersabar menunggu sang paman mencabut dompet, kemudian menabur uang yang diberi nama zakat. Dulu lima ribu per kepala. Tahun kemarin, kabarnya naik jadi sepuluh ribu. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cerpen at jannahTees.