Konsep Energi Habibie; Bukan Teori

August 13, 2012 § Leave a comment

Aku baru saja pulang dari Al Azhar Conference Center (ACC) usai menghadiri Dialog bersama Prof. DR. Ing. BJ Habibie. Menghadiri secara langsung pembicaraan dari tokoh besar yang namanya—kadang—lebih harum di negeri orang ketimbang di tanah sendiri tidak memberi faedah sebatas informasi belaka. Karena jika informasi, aku bisa mendapatkannya jauh lebih banyak dan praktis melalui perkakas penghubung ke dunia maya. Namun, sisi lain yang ku dapat di sini tak ku dapati dengan media apapun juga; adalah energi.

Aku tak paham dengan teori E=MC²-nya Albert Einstein sebagaimana aku juga tak begitu mengerti penjelasan energi meski telah ku lihat berulang-ulang dalam film dokumenter The Arrival. Tapi, apalah arti sebuah pemahaman. Agaknya aku tak begitu harus bersakit-kepala karena perkara yang tak ku pahami sementara aku bisa merasakannya. Meminjam bahasa Profesor Sofyan—rombongan Pak Habibie yang sempat berbincang dengan kami di stand PMIK tadi, tak sekedar teori dogmatis yang kita butuhkan, namun, aplikasi yang lebih membumi. Buku dengan tipikal seperti ini yang nanti—insyaallah—akan dirampungkan Pak Habibie.

Akupun mendapatkan poin aplikatif meski aku masih butuh penjabaran teoritis berikutnya. Namun, hingga di sini, aku sedikit puas. Bahwa energi yang dimaksudkan itu berhembus dalam ruang ACC itu. Pegal karena berdiri sekian jam terbayarkan oleh pengalaman yang tak ternilai. Karena di sana, aku menahan air mata yang menyimpan haru, sedih dan termotivasi. Haru karena sosok Pak Habibie, sedih atas terbuangnya waktuku dan termotivasi bahwa aku, dengan segala ke-serba-lengkap-an ini, pasti bisa meraih apa yang ku inginkan. Kita tak akan menjadi Pak Habibie karena cukup satu Habibie di dunia ini. Namun, kita mungkin bisa meminjam teorinya itu untuk menjadi kita yang lebih baik. Entahlah jika bisa dibandingkan dengan Pak Habibie atau tidak, yang pasti, sekalipun bisa, bandingan itu tak akan fair. Kita hanya bisa dibandingkan dengan kita yang sebelumnya. Apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya—wal’iyadzubillah—lebih buruk.

Pak Habibie menyebutkan tiga kunci sukses. Bukan apa², Pak; namun, aku hanya ingin sedikit mengubah urutannya. Sebab, dalam tulisan tingkat tinggi, urutanpun memberi makna. Maka, izinkan aku memberi makna pada urutan itu dengan mengganti hirarkinya. Bukan karena tulisanku tingkat tinggi, hanya saja aku tengah belajar menjadi penulis dengan karya tingkat tinggi. Dan, please, jangan bapak halangi niatku dengan tidak mengizinkan. « Read the rest of this entry »

Bahabbik Ya ‘Asal Iswid

January 21, 2012 § Leave a comment

Sudah lewat pula Muharram dan Safar tersisa tiga hari baru sekarang aku bisa mengetikkan kata pertahun 1433 atau 2012 di blog ini. Blogging menjadi seperti sulit sekali. Sejatinya tidak, hanya langkah awal saja yang berat karena aku sendiri sudah mencoba. Setelah langkah pertama, menulis mampu mengalir dengan lancar serupa air yang batu-batu kali besar pun mampu terlewati dengan mudah. Tentang menulis, aku percaya, setelah kemauan ada, keindahan adalah perkara nomor dua. Karena ayah pernah  bertitip pesan sederhana sekali: setiap hari sisihkan waktu dua jam saja untuk menulis. Sederhana, namun pelaksanaannya sering terabaikan. Hal yang sama untuk blog ini.
Dan aku menulisi lagi. Pagi ini, berjarak hanya 6 hari saja antara aku dan keberangkatan pulang ke Indonesia. Ada banyak kenangan belum tertulis yang hendak dicecahkan di sini. Mesir, ‘asal iswid, terbungkus warnanya yang hitam, namun serupa kata orang, fiiha haagah hilwa. Dan benar, Mesir menyimpan banyak mutiara yang belum terjamah sama sekali oleh ku.

Logis

December 1, 2011 § Leave a comment

Siang yang dingin, selang beberapa menit usai azan Zuhur berkumandang, aku berpapasan dengan Pak Krisna Purwana, penulis buku best seller “Akhirnya Tertawa Juga”. Beliau sengaja datang ke sini untuk sarasehan Nasional yang akan diadakan sore nanti. Di sini, beliau menginap di Wisma Nusantara. Bangunan yang sama dimana aku tinggal; hanya saja, beliau menginap di hotel, aku di kamar pengurus.

Selain Pak Krisna beserta beberapa orang temannya dari Kominfo, di Wisma saat ini juga ada sejumlah jari tangan pegawai Departemen Agama. Kedatangan mereka ke sini untuk program pembelajaran. Aku tak tahu pasti pembelajaran dengan tema apa, yang jelas tak akan jaun dengan kajian keagamaan. Aku sempat melihat jadwal kegiatan rombongan Depag yang kuperoleh dari Pak Harjani, penulis buku “7 Islamic Dayly Habits”, salah satu mentor program tersebut adalah Hasan Hanafi. Karena itu aku sebut tema pembelajaran mereka tak jauh dengan kajian ke(ber)agamaan—harusnya ke-Islam-an.

Kembali kepada lokasi tangga di siang yang dingin tadi. Aku bersegera menyalami Pak Krisna. Bukan karena aku mengenal beliau. Aku hanya tahu nama Pak Krisna dari buku beliau dan pamphlet yang tersebar di jejaring sosial. Sama sekali aku tidak tahu bahwa bapak dengan perawakan tinggi itu adalah Krisna Purwana. « Read the rest of this entry »

Khidmat

October 18, 2011 § Leave a comment

Wisuda kami, mahasiswa Indonesia di Al-Azhar tamatan 2011 yang diselenggarakan oleh PPMI, WIHDAH dan didukung penuh oleh KBRI.
 
Apa yang diharapkan dari wisuda ini? Motivasi. Itu hal pertama yang ku tangkap dari temanku yang saat ini belum rejeki wisuda. Aku sendiri pernah merasakan hal yang sama, tentang motivasi, dua tahun lalu saat—harus—hadir acara wisuda dan haflah khirrijin karena almamaterku masuk nominasi almamater terbaik. Saat itu, aku benar-benar termotivasi untuk belajar lebih giat. Belajar maksudku di sini mengandung target nilai capaian. Namun, boro-boro sampai ujian, motivasi itu hanya bertahan bahkan sebelum aku masuk menginjakkan kakiku di kamar. Memang benar, motivasi yang bukan karena Allah tak akan pernah bertahan lama.
 
Entahlah, namun, menurutku, teman itu juga akan merasakan kejadian yang tak jauh beda dengan apa yang ku rasakan dua tahun silam. Karena memang demikian naturalnya, motivasi tak pernah bertahan lama.

Ikhtitam

June 24, 2011 § Leave a comment

“Hatta law thabakhna mi-ah kilo ruzz, lan yakfî…” kata temanku sambil menyuap nasi dengan gaya makan khas Afrika-nya. Ya, di masjid ini selalu ada Mâidatur Rahmân, istilah untuk hidangan gratis setiap Senin-Kamis bagi mereka yang puasa. Namun, seperti kata temanku tadi, meskipun kita masak seratus kilo nasi setiap pekan, tak akan pernah cukup. Kenapa? Karena lokasi masjid ini terletak di tengah pasar!

Masjid ‘Imâdul Islâm, Attaba. Bagi yang pernah membaca novel Ayat² Cinta mungkin pernah mendengar nama tempat ini. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Attaba—kurang-lebih—berarti Pasar Tanah Abang, jika dalam bahasa kampungku: Pasa Aua Kuniang.

Di sinilah, di area pasar tradisional Kairo inilah aku bersama teman-teman hingga malam larut oleh pekat. Bukan untuk transaksi jual-beli. Juga bukan untuk mengejar Mâidatur rahmân di Masjid Imadul Islam. Namun, karena undangan dari temanku, Kakazo yang mengadakan Haflah Ikhtitam a.k.a perayaan khataman karena dia beserta beberapa teman lainnya telah merampungkan 30 juz Al Quran dalam waktu yang—subhanallah—hanya empat bulan. Sebagian lain telah mendapatkan sanad Qira`ah ‘Asyrah (sepuluh riwayat yang paling banyak digunakan dalam membaca Al Quran).

Aku teringat pada momen 12 tahun silam. Saat masih sekolah dasar, di kampungku juga diadakan perayaan ikhtitam setiap satu atau dua tahun. Masih SD aku saat itu, merayakan haflah ikhtitam bersama teman-teman seumuranku. Namun, bukan ikhtitam karena telah menghapal, melainkan karena telah merampungkan program belajar mengaji dan berhak mendapat ijazah dari Taman Pendidikan Al Quran. Tentu saja ini tidak sama. Sebab, aku sempat katakan kepada ayah bahwa Khatam Quran di kampung kita, tidak lain adalah perayaan dibolehkannya anak-anak untuk tidak lagi membaca Al Quran setiap hari. Karena memang, setelah itu, aku bersama teman-teman satu tempat mengaji, tidak lagi rutin membaca Al Quran, membawa atau—paling tidak—sekedar mendekap Al Quran di dada setiap pukul dua siang setiap hari.
« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cairo at jannahTees.