Rumah Minimalis

October 23, 2017 § Leave a comment

Memiliki rumah sendiri adalah idaman setiap orang. Terutama orang-orang dengan status serupa saya: baru membina keluarga. Saat masih berdua, mengontrak bukanlah masalah. Kami tak butuh pernak-pernik yang beragam di rumah. Cukup tempat tinggal yang tenang, sanitasi lancar, layak untuk ibadah, istirahat dan membaca buku sambil berbincang di hari libur. Rumah luas atau tidak, bukan termasuk pertimbangan. Malah kami cenderung memiliki rumah dengan ukuran yang biasa saja. Lebih gampang dirapikan. Dan jika pindah kontrakan pun lebih sedikit barang yang harus dibawa.

Namun setelah memiliki bayi, terutama saat bayi sudah mulai merangkak, berdiri dan menarik apa saja yang bisa dia raih; pertimbangan baru bermunculan. Sepertinya kita perlu rak supaya barang-barang tidak dijangkau bayi, perlu ruangan yang sedikit lebih luas, perlu karpet karena duduk di lantai ubin tidak baik, perlu ruangan dengan ventilasi yang bagus dan seterusnya.

Intinya adalah punya rumah sendiri. Sebab, mendisain rumah kontrakan terasa tanggung. Tahun depan boleh jadi kami pindah dan akan semakin kesulitan jika harus pindah-pindah dengan perabotan yang semakin banyak. Ditambah lagi banyak teman yang menganjurkan mending beli rumah dari sekarang. Pertimbangannya banyak, yang paling sering disebut adalah harga tanah semakin lama semakin tinggi. Artinya harga rumah terus naik. Jika tak punya rumah sekarang, akan semakin mahal jika dibeli tahun-tahun depan.

Maka, dua bulan terakhir perbincangan kami—saya dan istri—tidak jauh dari rencana membeli rumah. Kami memang berniat untuk membeli rumah secara tunai. Berutang tidak ada masalahnya, hanyasaja saya punya alasan sendiri untuk tidak berutang ke bank, baik yang syariah apatah lagi yang konvensional.

Hari itu kami survey rumah yang akan dibeli dan berbincang langsung dengan pemilik. Rumahnya masih baru, belum tiga tahun. Tidak jadi ditempati karena pemilikya pindah tugas. Beberapa bagian bangunan terlihat kurang baik. Masih terhitung wajar karena dua tahun tak berpenghuni. Namum overall tidak jauh dari ekpsektasi. Hanya saja harganya di atas budget tabungan. Saya sudah duga itu. Karena itu kami berencana meminjam tambahan dari mama dan beliaupun sudah menyetujui.

Sepulangnya saya masih sibuk mencari informasi di internet atau bertanya pada orang sekitar dan saudara siapa tahu ada alternatif rumah yang lain dengan harga lebih terjangkau, lokasi lebih cocok, atau keamanan lebih baik. Dua bulan terakhir hingga sore itu kepala saya dijejal dengan rumah dan tentu saja beban pikiran akan berutang. Meski kepada orang tua sendiri, ini kali pertama dalam hidup saya berutang dengan angka yang menyentuh bilangan ratusan juta.

Sore itu istri saya menyampaikan pendapatnya, “Bagaimana jika kita mengontrak lagi saja tahun depan, Bang?”

Istri saya seorang introvert. Memberikan pendapat bukan hal yang biasa baginya. Apalagi pendapat yang bertentangan dengan kondisi saat ini dimana kami, rasanya, sudah yakin sekali akan membeli rumah. Selama berumah tangga saya yang selalu mendominasi rencana-rencana kami. Jika terasa tidak begitu penting, istri saya cenderung ikut dengan ide yang saya sampaikan.

“Mungkin menurut Allah kita memang belum waktunya punya rumah sendiri. Lagian, tidak ada salahnya mengontrak (lagi).”

Jika memang belum cukup dana terkumpul berarti belum waktunya punya rumah. Tidak ada salahnya mengontrak. KH Agus Salim saja terbiasa mengontrak dan beliau adalah seorang menteri luar negeri di zaman di mana harga tanah tidak se-luar-biasa sekarang. Urusan nanti harga tanah naik seberapa persen, kalau memang kata Allah sudah waktunya punya rumah, nanti akan ada pula dana untuk rumah seharga apapun.

Malam itu saya putuskan untuk tidak jadi membeli rumah. Saya telpon orang tua perihal tersebut dan mengatakan tidak jadi meminjam uang. Saya kabari juga pemilik rumah tersebut. Dan ajaib, pikiran saya jadi segar. Tidak perlu lagi menghabiskan waktu di depan internet mencari-cari informasi rumah. Juga beban kepala terasa jauh lebih ringan karena tidak ada pikiran “saya akan berutang hingga beberapa tahun ke depan”.

Qanaah, atau kata orang sekarang: minimalis, adalah pilihan. Berkejar-kejar dengan apa yang diinginkan, sibuk dengan hal tersebut, terlilit utang, dan seterusnya; atau bercukup-cukup dengan apa yang ada dan bahagia. Maka saya memilih untuk menempati rumah sebagaimana yang saya inginkan: tenang, cukup luas, berhalaman, akses mudah, lingkungan aman; tanpa harus berutang dan masih memiliki tabungan. Namanya mungkin dianggap sepele: ngontrak. Tapi kenyamanan yang saya miliki sama dengan kenyamanan yang dimiliki orang lain. Semoga kami dimasukkan dalam golongan mereka yang beruntung.

Sungguh beruntung mereka yang muslim, diberi rezki secukupnya, lalu Allah jadikan mereka qanaah dengan rizki tersebut. ~HR. Muslim

Rumah minimalis. Tentu saja ini bukan tulisan tentang disain rumah. Ini adalah gambaran sebuah rumah bagi seorang yang ingin minimalis.

Depok 9.17 pm

Advertisements

Hal Sepele itu Tidak Eksis

September 8, 2017 § Leave a comment

Bulan ini ada dua teman yang berulang tahun di tempat saya bekerja. Selisihnya hanya satu hari. Teman pertama bekerja di pusat, dan satunya bekerja di wilayah. Teman pertama jabatannya lebih tinggi daripada yang kedua. Dan kemarin siang saya membaca banyak ucapan selamat, doa-doa kebaikan dan foto-foto potong kue di grup WA kantor; untuk teman yang pertama.

Saya bukan tipikal orang yang terbiasa dengan tradisi ulang tahun. Namun jika ada yang merayakannya, kenapa pelit untuk memberikan doa-doa yang baik. Siang itu saya sampaikan ucapan selamat, seuntai doa disertai foto kue yang saya dapat secara random dari google; untuk teman yang pertama tentunya.

Sorenya saya baru sadar bahwa teman satunya lagi, yang bekerja di wilayah, juga berulang tahun. Sama seperti sebelumnya, saya ucapkan selamat ulang tahun di grup WA disertai dengan foto kue yang saya ambil secara acak; untuk teman kedua.

Saya melihat sepele saja postingan tersebut. Mengucapkan selamat, doa, foto kue. Semua orang melakukannya, mulai dari anak sekolah hingga para senior. Tapi setelahnya saya dikabari oleh teman yang satunya tadi.

“Dek, makasi ya ucapan selamatnya di grup sore kemarin. Bos baru tau saya ulang tahun di bulan ini. Barusan beliau manggil saya dan bilang, ‘Kenapa ga kasi tau kalo ulang tahun’. Pagi ini kantor menyediakan kue untuk saya, ucapan selamat dan tak hanya itu, asisten kota yang sedang bertamupun turut serta merayakan.”

***
Saya percaya pada segala yang terjadi dalam hidup, tidak ada yang kebetulan. Saya mengirim ucapan selamat, kantor wilayah menyediakan perayaan kecil-kecilan untuk teman saya, saya menulis kisah ini di blog, atau ada yang kemudian membacanya. Semua tak terjadi kebetulan.

Begitu juga dengan hal-hal sepele. Apapun bentuknya, tidak ada yang kebetulan semata. Dulu, ada sang koki yang lupa memasukkan baking powder dalam adonan bolu coklatnya. Sepertinya kebetulan, namun konon ceritanya itulah awal mula kita mengenal kue bernama brownies.

Dulu sekali, abad ke-17, suatu malam, sebuah apel jatuh tegak lurus dari pohonnya. Kejadian biasa itu disaksikan oleh seorang pemuda yang tengah menikmati teh di kebun tersebut. ‘Hanya’ adegan apel yang jatuh yang didapati oleh seorang pemuda, begitu yang dikisahkan Wiliam Stukeley, seorang arkeolog. Namun hingga hari ini kita mengenal teori gravitasi yang digagas oleh pemuda yang tak lain bernama Isaac Newton itu. Dia menjadi tokoh besar dalam Fisika. Lebih dari itu, diapun disebut-sebut di lembar sejarah. Michael Hart menulis 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang masa, dan nama Isaac Newton menempati posisi kedua, tepat setelah Nabi kita tercinta, Muhammad SAW.

Kadang, setiap kali saya membayangkan betapa besar konsekwensi yang lahir dari hal-hal sepele; saya jadi yakin bahwa di dunia ini tak ada hal yang benar-benar sepele.

Dalam hal kebaikan, Rasul mengajarkan, “Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun; meski itu hanya sekedar memberikan senyuman kepada saudaramu.” Kita tidak pernah tahu dampak senyuman tersebut berikutnya.

Saya suka tersenyum sendiri jika ingat hal-hal ‘sepele’ yang berpengaruh besar dalam hidup saya, atau dalam kisah dari keluarga dan teman-teman saya. Kemudian juga saya jadi tersentak. Sebab, setiap hal-hal sepele tersebut, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, sekecil atom-pun; akan dipertanyakan di akhirat kelak. [MFK]

| Tenabang, Jakarta

The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Free-dumb

August 17, 2012 § 1 Comment

Catatan satu tahun silam tentang freedom

Aku pernah berpikiran sederhana sekali. Sarkasmenya: dangkal. Tentang arti kebebasan yang aku terjemahkan dalam susunan yang—menurutku—singkat-tepat. Aku mengartikan kebebasan sebagai murni kebebasan semata. Setiap kita memiliki itu. Maka, untukku, hakku adalah segalanya; dan hak tersebut hanya dibatasi oleh hak orang lain. Selagi apa yang ku lakukan tak bersinggungan dengan hak orang lain, I don’t give a dam*.Maka untuk beberapa masa, menjadilah aku manusia yang merasa tak terikat. Tak peduli dengan slogan Naga Bonar: “apa kata dunia”, aku bebas dengan duniaku. Terserah dunia mau bilang apa, bagiku, aku merdeka. Selama aku tak merampas hak orang lain, terserah aku mau berbuat apa.

Itulah yang kemudian ku sebut sebagai freedom.
« Read the rest of this entry »

Konsep Energi Habibie; Bukan Teori

August 13, 2012 § Leave a comment

Aku baru saja pulang dari Al Azhar Conference Center (ACC) usai menghadiri Dialog bersama Prof. DR. Ing. BJ Habibie. Menghadiri secara langsung pembicaraan dari tokoh besar yang namanya—kadang—lebih harum di negeri orang ketimbang di tanah sendiri tidak memberi faedah sebatas informasi belaka. Karena jika informasi, aku bisa mendapatkannya jauh lebih banyak dan praktis melalui perkakas penghubung ke dunia maya. Namun, sisi lain yang ku dapat di sini tak ku dapati dengan media apapun juga; adalah energi.

Aku tak paham dengan teori E=MC²-nya Albert Einstein sebagaimana aku juga tak begitu mengerti penjelasan energi meski telah ku lihat berulang-ulang dalam film dokumenter The Arrival. Tapi, apalah arti sebuah pemahaman. Agaknya aku tak begitu harus bersakit-kepala karena perkara yang tak ku pahami sementara aku bisa merasakannya. Meminjam bahasa Profesor Sofyan—rombongan Pak Habibie yang sempat berbincang dengan kami di stand PMIK tadi, tak sekedar teori dogmatis yang kita butuhkan, namun, aplikasi yang lebih membumi. Buku dengan tipikal seperti ini yang nanti—insyaallah—akan dirampungkan Pak Habibie.

Akupun mendapatkan poin aplikatif meski aku masih butuh penjabaran teoritis berikutnya. Namun, hingga di sini, aku sedikit puas. Bahwa energi yang dimaksudkan itu berhembus dalam ruang ACC itu. Pegal karena berdiri sekian jam terbayarkan oleh pengalaman yang tak ternilai. Karena di sana, aku menahan air mata yang menyimpan haru, sedih dan termotivasi. Haru karena sosok Pak Habibie, sedih atas terbuangnya waktuku dan termotivasi bahwa aku, dengan segala ke-serba-lengkap-an ini, pasti bisa meraih apa yang ku inginkan. Kita tak akan menjadi Pak Habibie karena cukup satu Habibie di dunia ini. Namun, kita mungkin bisa meminjam teorinya itu untuk menjadi kita yang lebih baik. Entahlah jika bisa dibandingkan dengan Pak Habibie atau tidak, yang pasti, sekalipun bisa, bandingan itu tak akan fair. Kita hanya bisa dibandingkan dengan kita yang sebelumnya. Apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya—wal’iyadzubillah—lebih buruk.

Pak Habibie menyebutkan tiga kunci sukses. Bukan apa², Pak; namun, aku hanya ingin sedikit mengubah urutannya. Sebab, dalam tulisan tingkat tinggi, urutanpun memberi makna. Maka, izinkan aku memberi makna pada urutan itu dengan mengganti hirarkinya. Bukan karena tulisanku tingkat tinggi, hanya saja aku tengah belajar menjadi penulis dengan karya tingkat tinggi. Dan, please, jangan bapak halangi niatku dengan tidak mengizinkan. « Read the rest of this entry »

Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Dear Diary: Refleksi

July 6, 2012 § Leave a comment

Dua hari lalu, setelah merampungkan tugas, saya bingung mau berbuat apa. Saya baru beberapa hari di tempat ini. Berbicara dengan staf lain, mereka sibuk dengan kerja masing-masing. Hanya ada komputer yang tak terkoneksi internet di meja saya. Isinyapun itu-itu saja. Hardisk D hanya terisi setengah megabyte oleh tulisan dan laporan. Hardisk C berisi program standar. Tak ada file video yang  bisa ditonton. Tak pula ada file audio yang bermutu. Hanya beberapa lagu barat di folder musik—yang mendengarnya sama sekali tidak memperbaiki mood. Saya membuka Ms. Word, membuat dunia baru dalam susunan kata.

Teman saya terbahak ketika mendengar jawaban dari pertanyaannya, “Jadi, kalo ga ada kerjaan, kamu ngapain?” dan saya menjawab: nulis diari.

Oke. Postingan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan lagu picisan remaja beberapa tahun lalu. Kata “diari” agaknya terdengar kurang match untuk seorang laki-laki, tidak lagi remaja dan berjenggot. Jika diganti dengan istilah “jurnal harian”, mungkin lebih cocok. Tapi apalah bedanya. “The rose,” kata Shakespeare, “with any other name, would smell as sweet”. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with blogging at jannahTees.