Free-dumb

August 17, 2012 § 1 Comment

Catatan satu tahun silam tentang freedom

Aku pernah berpikiran sederhana sekali. Sarkasmenya: dangkal. Tentang arti kebebasan yang aku terjemahkan dalam susunan yang—menurutku—singkat-tepat. Aku mengartikan kebebasan sebagai murni kebebasan semata. Setiap kita memiliki itu. Maka, untukku, hakku adalah segalanya; dan hak tersebut hanya dibatasi oleh hak orang lain. Selagi apa yang ku lakukan tak bersinggungan dengan hak orang lain, I don’t give a dam*.Maka untuk beberapa masa, menjadilah aku manusia yang merasa tak terikat. Tak peduli dengan slogan Naga Bonar: “apa kata dunia”, aku bebas dengan duniaku. Terserah dunia mau bilang apa, bagiku, aku merdeka. Selama aku tak merampas hak orang lain, terserah aku mau berbuat apa.

Itulah yang kemudian ku sebut sebagai freedom.
« Read the rest of this entry »

Konsep Energi Habibie; Bukan Teori

August 13, 2012 § Leave a comment

Aku baru saja pulang dari Al Azhar Conference Center (ACC) usai menghadiri Dialog bersama Prof. DR. Ing. BJ Habibie. Menghadiri secara langsung pembicaraan dari tokoh besar yang namanya—kadang—lebih harum di negeri orang ketimbang di tanah sendiri tidak memberi faedah sebatas informasi belaka. Karena jika informasi, aku bisa mendapatkannya jauh lebih banyak dan praktis melalui perkakas penghubung ke dunia maya. Namun, sisi lain yang ku dapat di sini tak ku dapati dengan media apapun juga; adalah energi.

Aku tak paham dengan teori E=MC²-nya Albert Einstein sebagaimana aku juga tak begitu mengerti penjelasan energi meski telah ku lihat berulang-ulang dalam film dokumenter The Arrival. Tapi, apalah arti sebuah pemahaman. Agaknya aku tak begitu harus bersakit-kepala karena perkara yang tak ku pahami sementara aku bisa merasakannya. Meminjam bahasa Profesor Sofyan—rombongan Pak Habibie yang sempat berbincang dengan kami di stand PMIK tadi, tak sekedar teori dogmatis yang kita butuhkan, namun, aplikasi yang lebih membumi. Buku dengan tipikal seperti ini yang nanti—insyaallah—akan dirampungkan Pak Habibie.

Akupun mendapatkan poin aplikatif meski aku masih butuh penjabaran teoritis berikutnya. Namun, hingga di sini, aku sedikit puas. Bahwa energi yang dimaksudkan itu berhembus dalam ruang ACC itu. Pegal karena berdiri sekian jam terbayarkan oleh pengalaman yang tak ternilai. Karena di sana, aku menahan air mata yang menyimpan haru, sedih dan termotivasi. Haru karena sosok Pak Habibie, sedih atas terbuangnya waktuku dan termotivasi bahwa aku, dengan segala ke-serba-lengkap-an ini, pasti bisa meraih apa yang ku inginkan. Kita tak akan menjadi Pak Habibie karena cukup satu Habibie di dunia ini. Namun, kita mungkin bisa meminjam teorinya itu untuk menjadi kita yang lebih baik. Entahlah jika bisa dibandingkan dengan Pak Habibie atau tidak, yang pasti, sekalipun bisa, bandingan itu tak akan fair. Kita hanya bisa dibandingkan dengan kita yang sebelumnya. Apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya—wal’iyadzubillah—lebih buruk.

Pak Habibie menyebutkan tiga kunci sukses. Bukan apa², Pak; namun, aku hanya ingin sedikit mengubah urutannya. Sebab, dalam tulisan tingkat tinggi, urutanpun memberi makna. Maka, izinkan aku memberi makna pada urutan itu dengan mengganti hirarkinya. Bukan karena tulisanku tingkat tinggi, hanya saja aku tengah belajar menjadi penulis dengan karya tingkat tinggi. Dan, please, jangan bapak halangi niatku dengan tidak mengizinkan. « Read the rest of this entry »

Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Dear Diary: Refleksi

July 6, 2012 § Leave a comment

Dua hari lalu, setelah merampungkan tugas, saya bingung mau berbuat apa. Saya baru beberapa hari di tempat ini. Berbicara dengan staf lain, mereka sibuk dengan kerja masing-masing. Hanya ada komputer yang tak terkoneksi internet di meja saya. Isinyapun itu-itu saja. Hardisk D hanya terisi setengah megabyte oleh tulisan dan laporan. Hardisk C berisi program standar. Tak ada file video yang  bisa ditonton. Tak pula ada file audio yang bermutu. Hanya beberapa lagu barat di folder musik—yang mendengarnya sama sekali tidak memperbaiki mood. Saya membuka Ms. Word, membuat dunia baru dalam susunan kata.

Teman saya terbahak ketika mendengar jawaban dari pertanyaannya, “Jadi, kalo ga ada kerjaan, kamu ngapain?” dan saya menjawab: nulis diari.

Oke. Postingan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan lagu picisan remaja beberapa tahun lalu. Kata “diari” agaknya terdengar kurang match untuk seorang laki-laki, tidak lagi remaja dan berjenggot. Jika diganti dengan istilah “jurnal harian”, mungkin lebih cocok. Tapi apalah bedanya. “The rose,” kata Shakespeare, “with any other name, would smell as sweet”. « Read the rest of this entry »

Bahabbik Ya ‘Asal Iswid

January 21, 2012 § Leave a comment

Sudah lewat pula Muharram dan Safar tersisa tiga hari baru sekarang aku bisa mengetikkan kata pertahun 1433 atau 2012 di blog ini. Blogging menjadi seperti sulit sekali. Sejatinya tidak, hanya langkah awal saja yang berat karena aku sendiri sudah mencoba. Setelah langkah pertama, menulis mampu mengalir dengan lancar serupa air yang batu-batu kali besar pun mampu terlewati dengan mudah. Tentang menulis, aku percaya, setelah kemauan ada, keindahan adalah perkara nomor dua. Karena ayah pernah  bertitip pesan sederhana sekali: setiap hari sisihkan waktu dua jam saja untuk menulis. Sederhana, namun pelaksanaannya sering terabaikan. Hal yang sama untuk blog ini.
Dan aku menulisi lagi. Pagi ini, berjarak hanya 6 hari saja antara aku dan keberangkatan pulang ke Indonesia. Ada banyak kenangan belum tertulis yang hendak dicecahkan di sini. Mesir, ‘asal iswid, terbungkus warnanya yang hitam, namun serupa kata orang, fiiha haagah hilwa. Dan benar, Mesir menyimpan banyak mutiara yang belum terjamah sama sekali oleh ku.

Logis

December 1, 2011 § Leave a comment

Siang yang dingin, selang beberapa menit usai azan Zuhur berkumandang, aku berpapasan dengan Pak Krisna Purwana, penulis buku best seller “Akhirnya Tertawa Juga”. Beliau sengaja datang ke sini untuk sarasehan Nasional yang akan diadakan sore nanti. Di sini, beliau menginap di Wisma Nusantara. Bangunan yang sama dimana aku tinggal; hanya saja, beliau menginap di hotel, aku di kamar pengurus.

Selain Pak Krisna beserta beberapa orang temannya dari Kominfo, di Wisma saat ini juga ada sejumlah jari tangan pegawai Departemen Agama. Kedatangan mereka ke sini untuk program pembelajaran. Aku tak tahu pasti pembelajaran dengan tema apa, yang jelas tak akan jaun dengan kajian keagamaan. Aku sempat melihat jadwal kegiatan rombongan Depag yang kuperoleh dari Pak Harjani, penulis buku “7 Islamic Dayly Habits”, salah satu mentor program tersebut adalah Hasan Hanafi. Karena itu aku sebut tema pembelajaran mereka tak jauh dengan kajian ke(ber)agamaan—harusnya ke-Islam-an.

Kembali kepada lokasi tangga di siang yang dingin tadi. Aku bersegera menyalami Pak Krisna. Bukan karena aku mengenal beliau. Aku hanya tahu nama Pak Krisna dari buku beliau dan pamphlet yang tersebar di jejaring sosial. Sama sekali aku tidak tahu bahwa bapak dengan perawakan tinggi itu adalah Krisna Purwana. « Read the rest of this entry »

Menulis itu Seperti Pisang

November 29, 2011 § 1 Comment

Aku hendak belajar menulis. Namun, selalu saja tersandung oleh banyak hal. Sebenarnya menulis itu mudah sangat, kata orang-orang yang memang sudah hebat menulis. Aku coba, ternyata sulit-sulit mudah. Sulitnya tertulis sebanyak dua kali, berarti lebih condong kepada sulit ketimbang mudah. Dicobakan lagi dan aku mulai merasa sedikit perubahan. Ada seberkas kesenangan ketika beberapa huruf mulai tertata, lalu membentuk kata yang mampu mewakilkan beberapa hal yang susah diungkap. Namun, satu-dua paragraf, kata-kata itu terhenti. Aku paksakan untuk terus dan semua ide terpental, berserakan pada tema-tema yang sama sekali tak direncanakan sebelumnya. Setelah yang kedua, meskipun susah, menulis telah melahirkan sedikit lengkungan senyum di wajahku. Menyenangkan meskipun sulit. Dicobakan sekali lagi dan tanpa sadar, aku telah tercandu oleh kerjaan tulis-menulis ini. Tiga kali mencoba-coba, bolehlah aku buat kesimpulan bahwa menulis ini terasa manis sekali di jari dan tak ingin berlepas diri.

Perlu dicoba lebih dari tiga kali agaknya supaya tahu benar apakah satu pekerjaan bisa sesuai dengan seseorang atau tidak. Percaya aku dengan ucapan Virgil Garnet, “Try a thing you haven’t done three times. Once, to get over the fear of doing it. Twice, to learn how to do it. And a third time, to figure out whether you like it or not.” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with blogging at jannahTees.