9 Tips Quran Andoroid

May 20, 2014 § Leave a comment


Mungkin saya termasuk telat menuliskannya di blog. Nyaris semua pengguna gadget dengan sistem operasi android sudah menginstal aplikasi ini. Namun, mungkin ada yang belum begitu optimal dalam penggunaannya, saya ingin berbagi 9 tips yang mungkin jarang digunakan oleh pengguna Quran android.Screenshot_2014-05-20-18-45-55

Dari sekian aplikasi Quran untuk Android, Quran Android adalah favorit saya. Tidak saja karena aplikasi ini gratis dan bebas-iklan (kalo yang gratis tapi pakai iklan, tau sendiri lah, sangat mengganggu terutama untuk hp berlayar kecil), namun juga sangat praktis. Berikut beberapa keunggulan dan tipsnya:

1. User interface Mushaf Madinah
Aplikasi Quran Android memiliki halaman yang persis sama dengan mushaf madinah atau yang sering kita sebut Quran pojok. Jika kamu sudah terbiasa membaca atau menghapal Al Quran menggunakan mushaf madinah, kamu bisa langsung beradaptasi dengan aplikasi ini. Saya teringat salah satu tips menghafal Al Quran: “gunakan mushaf yang sama”, tujuannya adalah agar kita tak hanya mampu menghapal rangkaian ayatnya namun juga terbantu dengan mengingat posisi ayat jika menggunakan satu model mushaf. « Read the rest of this entry »

Iman is Like The Flight

January 1, 2014 § Leave a comment

Iman is like the flight: the higher you get the smaller everything in this world become.

iman fly

download link: click here

Istighfar

November 10, 2013 § Leave a comment

Beberapa waktu lalu, seorang bapak datang kepada Syaikh bin Bazz, ulama dan mufti terkenal Arab Saudi. Bapak tersebut mengadukan keadaannya yang sudah 7 tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anakpun. Syaikh Bin Bazz tidak memberikan nasihat apapun kecuali satu kalimat sederhana, “Perbanyak istighfar.”

Satu tahun kemudian, bapak tersebut kembali menemui Syaikh, mengabarkan bahwa dia mengikuti nasihat beliau dan, dengan izin Allah, istrinya hamil.

image

***

Tiga belas abad silam, pernah pula ada yang datang kepada Imam Hasan Al Bashri, seorang ulama era tabiin yang terkenal dengan ilmu, kecerdasan, dan taqwa. Diadukannya keadaan negerinya yang kering-kerontang dan langit tak setetespun menurunkan hujan. Sang Imam tak memberikan nasihat apapun kecuali satu kalimat saja, “Perbanyak istighfar.”

Kemudian datang pula yang lain mengadukan kondisinya yang miskin, Hasan Al-Bashri memberikan nasihat yang sama, “Perbanyak istighfar.”

Di hari lain, seseorang kembali datang dan menyebutkan keadaan istrinya yang mandul, tak bisa melahirkan. Hasan Al-Bashri mengatakan, “Perbanyak istighfar.”

Maka jamaah bertanya, “Apakah setiap ada yang datang mengadu kepada engkau, Wahai Imam, engkau sampaikan pesan yang sama?”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Tidakkah kalian membaca firman Allah Ta’ala,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”
(QS. Nuh: 10-13)

***

Ada dua hal yang menjadi alasan kita beroleh keamanan di dunia. Alasan pertama sudah diangkat dan tak ada lagi saat ini; yang tersisa hanyalah alasan kedua.

Yang pertama adalah Rasulullah, sebagaimana firman Allah,
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ
“Dan Allah tak akan menurunkan azab kepada mereka sementara engkau (Muhammad) ada bersama mereka…” (Al-Anfal: 33)

Dan yang kedua adalah istighfar, sebagaimana kelanjutan firman Allah di atas,
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“…dan Allah tak akan mengazab mereka sementara mereka adalah orang-orang yang senantiasa memohon ampun (istighfar).” (Al-Anfal: 33)

Mulailah perbanyak istighfar kepada Allah dalam kesendirian. “Beruntunglah,” ujar Rasul, “mereka yang mendapatkan dalam lembaran amalannya, istighfar yang banyak.”

Jakarta, 7 Muharam 2013

Menulis (Lagi)

October 17, 2013 § Leave a comment

Saya memulai menulis lagi. Dan ini untuk yang kesekian-kalinya. Serupa kalimat satir Mark Twain tentang berhenti merokok, begitu pula keadaan menulis saya. “Giving up smoking,” tulis Twain, “is the easiest thing in the world. I know, because I have done it a thousand times.” Bagi saya, memulai menulis, adalah hal termudah di dunia ini. Saya sudah melakukannya ribuan kali. Memulai, terhenti, memulai lagi, terhenti lagi, memulai…

Saya buka kembali blog, tulisan terakhir saya post pada 26 Juli. Nyaris tiga bulan lalu. Itupun bukan tulisan saya melainkan copas-an dari pesan-pesan emasnya Ustadz Rahmat Abdullah. Postingan yang murni saya tulis, bukan copas juga bukan terjemahan, adalah pada 2 Februari. Delapan bulan lalu. Iya, saya bukan blogger sejati agaknya.

Sejak pindah rumah dari multiply ke wordpress, kwantitas menulis saya menurun drastis. Berhubung menulis adalah sebuah kebiasaan, dan kebiasaan adalah kerja yang selalu dirutinkan; maka menurunnya kwantitas menulis berbanding lurus dengan kwalitasnya. Kwalitas menulis saya pun memburuk dari yang sebelumnya—menurut saya—baik. Atau me-lebih-buruk dari yang sebelumnya—menurut para masters atau mungkin haters :P—sudah sudah buruk jua.

Jika saya buka kembali catatan harian, rutinitas menulis saya tak seburuk yang di blog. Dua bulan lalu, ya, dua bulan lalu, saya terakhir menulis jurnal harian. Dan, itupun beberapa paragraf saja. Pada jurnal hari-hari sebelumnya hanya beberapa paragraf juga. Meminjam ucapan Imam At-Thabari, qad maatatil himmah. Innalillah :(

Malam ini saya terdorong untuk menulis lagi. Bukannya saya baru pulang dari seminar motivasi, juga bukan karena ingin ikut lomba blog, hanya saja, saya merasa harus menulis di ruangan ini. Di ruangan dimana orang yang saya cintai pernah menghabiskan malamnya dengan kumpulan kata-kata.

Keep calm and ask dadMalam ini saya berada di ruang kerja almarhum ayah. Di ruang ini ayah bekerja keras supaya kami bisa tetap sekolah. Siang hari, jika ayah tidak menenteng meja lipatnya untuk dagang kaki lima di Pasar Bukittinggi, kamar ini menjadi ruang bekerjanya membuat pesanan orang. Dan, malam hari, kamar ini selalu penuh sesak dengan jutaan inspirasi ayah yang beliau tuangkan dalam aksara.

Disamping itu, ruang ini juga menjadi saksi bisu dimana kami sering bercerita kepada ayah apa saja dari hal penting sampai hal tak penting sama sekali. Dari impian dan rencana masa depan sampai cerita picisan anak sekolahan yang semuanya selalu disimak ayah dengan sangat baik dan serius. Tak satupun dari ucapan kami yang terlewat tak didengar. Bagi ayah, setiap cerita kami adalah anugerah. Saya ingin ceritakan kepada kamu bagaimana ayah menghargai setiap cerita kami. Sederhana sekali: ayah sibuk bekerja, saya atau mungkin saudara saya datang dan memulai bicara, serta merta ayah hentikan kerjanya lalu fokus mendengar celoteh kami. Kapanpun itu.

Kamar ini menyimpan banyak sekali kenangan. Bagiku, kamar ini menjadi kenangan dimana ayah pernah sangat bahagia, dan mengatakan, “Tidak bisa tidur karena susah, ayah sudah sering; tapi tak bisa tidur karena bahagia, baru kali ini.” Lalu, beberapa hari setelah itu, Allah wafatkan ayah.

Gurun Aur, 17 Oktober 2013

Aku Rindu dengan Zaman Itu

July 26, 2013 § Leave a comment

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan.
Aku rindu zaman ketika membina adalah
kewajiban, bukan pilihan apalagi beban dan paksaan.
Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan.
Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan.
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan.
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan.
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini.
Aku rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebanggaan.
Aku rindu zaman ketika hadir di liqo adalah kerinduan,
dan terlambat adalah kelalaian.
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak
mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta
sepulang tabligh dakwah di desa sebelah.
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan.
Aku rindu zaman ketika seorang binaan MENANGIS karena tak bisa hadir di liqo’.
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya.
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya.
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya.
Aku rindu zaman itu,
Aku rindu…
Ya ALLAH,
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari
hati-hati kami.
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di
tempat yang sama.

 

oleh: Ust. Rahmat Abdullah

Advantages of Wearing Hijab

June 7, 2013 § Leave a comment

Advantages-of-Wearing-the-Hijab

In Memoriam, Ayah

May 30, 2013 § 2 Comments

Sebuah catatan kecil, dua tahun lalu:

____________________

Sebelum membaca dan tahu deretan tokoh yang tak akan kekal nama mereka hingga hari ini kecuali karena idealisme yang diikuti oleh konsistensi terhadap idealisme tersebut; aku sudah punya figur sendiri. Sosok yang—menurutku—sangat konsisten dengan segala yang pernah dia ajarkan. Aku tahu, sebab, aku pernah membaca banyak tulisannya, bercerita lama, curhat, hidup, interaksi tanpa henti; bahkan, aku juga dibesarkan dan berutang banyak pada sosok ini. Terkesan subjektif, memang. Namun, di belahan bumi mana seseorang mampu bertindak objektif untuk saat ini? Maka, ijinkan aku menggunakan hak-ku untuk berbicara subjektif selagi tak menyinggung hak orang lain.

Bagiku saat itu, ayah adalah sosok paling idealis yang pernah aku kenal dalam hidup. Tidak dalam satu-dua perkara, namun, pada banyak hal dia akan bertahan dengan apa saja yang diyakininya sebagai kebenaran. Setiap kali berdebat, mulai dari masalah tidak mengikut-sertakan adikku kursus bahasa Inggris yang dipaksakan diwajibkan oleh sekolah hingga kasus-kasus terkait birokrasi. Aku tak perlu bercerita banyak, nenek yang pernah membesarkan ayah, terang-terangan mengatakan: jangankan kalah, seri saja dia tak mau.

Saat awal berumah tangga, ayah lebih memilih meninggalkan toko emas besar di Jakarta dan berangkat ke Surabaya berdagang asongan rokok—korek api. Saat itu ayah masih bekerja dengan pamannya, kakekku. Dan, alasan kenapa memilih jalanan panas Surabaya ketimbang toko emas besar di Jakarta Pusat sana bukanlah perkara utang melilit atau gaji kecil. Alasannya sederhana: para pelanggan toko emas adalah orang kaya dan tabiat orang kaya selalu saja begitu: melihat segala sesuatu berdasarkan materi. Konsekwensinya, manusia juga ditakar secara serampangan dengan barometer kekayaan. Yang kaya adalah boss, kemudian yang miskin menjadi warga kelas dua, tiga, empat dan seterusnya. Dan, hari itu, adalah hari terakhir ayah di toko emas pamannya karena satu hal: mengusir pelanggan dari toko. Ayah tidak dikeluarkan dari toko karena dia bekerja di toko pamannya sendiri. Yang dilakukan ayah saat itu adalah memilih keluar.

Sejak mendengar kisah tersebut, aku percaya pada kebijaksanaan konvensional bahwa mereka yang idealis, hidupnya susah. Karena memang, setelah itu, kerja ayah tak pernah jauh dari pinggiran jalan. Pernah pada KTP ayah tertulis pekerjaan sebagai wartawan. Namun, itu hanya sebentar, karena setelah itu ayah meninggalkannya dan lebih memilih berjualan yang—lagi-lagi—terkait dengan pinggir jalan.

Menjadi wartawan memang keren. Aku pun dengan sangat bangga mengatakan bahwa ayahku dulunya adalah wartawan. Namun, saat itu, gaji wartawan tak sebanding dengan jerih payah mereka. Terutama bagi kepala sekaligus tulang punggung rumah tangga. Perhitungan gaji berbanding jam kerja adalah hal realistis yang dipikirkan mereka yang idealis sekalipun. « Read the rest of this entry »