Humor Tukang Cukur

December 9, 2012 § 1 Comment

Ide cerita ini saya dapat dari seorang teman. Lucu. Tapi lucu saja tidak menguntungkan, semoga kita bisa ambil pelajaran di sini tentang take and give, oh bukan, tepatnya give and take. Ok, begini ceritanya

Di pinggir jalan di Kairo sana ada seorang tukang cukur yang baik hati. Suatu hari, seorang pemilik toko bunga mengunjungi si tukang cukur untuk potong rambut. Setelah rapi, si pemilik toko bunga memberikan beberapa lembar pound Mesir untuk membayar upah pangkas. Namun, si tukang cukur menolak dengan ramah, “Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Si pemilik toko bunga sangat bahagia kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget mendapati kartu ucapan terima kasih berikut belasan bunga cantik tersusun rapi di depan pintu.

Di kemudian hari, seorang polisi datang untuk potong rambut. Seperti biasa, setelah rapi Pak polisi membayar si tukang cukur. Dan, seperti biasa pula si tukang cukur menolak ramah, “Maaf Pak, saya tak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Pak Polisi sangat senang kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget mendapati kartu ucapan terima kasih dan sekotak halawa (manisan) di depan pintu.

Kemudian hari, seorang mahasiswa Indonesia datang untuk potong rambut. Setelah rampung, mahasiswa tersebut membayar si tukang cukur. Si tukang cukur lagi-lagi menolak ramah, “Maaf Nak, saya tak bisa menerimanya. Saya melakukan ini untuk melayani masyarakat.” Si mahasiswa sangat senang kemudian meninggalkan tempat cukur.

Keesokan hari, saat hendak membuka tempat cukurnya, si tukang cukur kaget. Tebak apa yang dia dapatkan di depan tempat cukurnya? Puluhan mahasiswa menunggu untuk dicukur. []

Angka

July 13, 2012 § Leave a comment

Rabu lalu adalah hari khusus di Jakarta. Hari Pilkada. Sebagian kantor memberikan izin karyawannya untuk terlambat masuk, sebagian lagi malah total libur sepenuh hari. Begitu juga di kantor pemerintahan. Meski tidak semua pegawai memiliki hak pilih karena bukan warga DKI, meski tak sehari penuh pula para pemilih harus berdiri di antrian TPS; beberapa kantor tetap diliburkan.

Bagi teman saya, diliburkan atau tidak, di satu hari itu dia tetap tak akan masuk kerja. Sebut saja namanya Tepus. Di daerahnya, Tepus terpilih sebagai ketua TPS. Menjadi ketua, maka tanggung jawab penuh baginya untuk berjaga di tempat tersebut.

Tidak hanya harus seharian di TPS, Tepus juga mesti benar-benar menjaga diri. Berlaku netral. Tidak berwarna apapun. Tidak ber-angka apapun. Menjadi netral memang tidak mungkin. Namun, menampakkan netral sedikit-banyak bisa diusahakan. Maka, mulai dari sikap, bahasa tubuh hingga kata-kata harus dia teliti selama satu hari itu.

Jangankan salah sebut, bicara normalpun bisa menjadi perkara. Akibatnya, Tepus mesti mengubah beberapa redaksi bahasa yang seharusnya normal, namun menjadi sensitif. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the there’s no small thing category at jannahTees.