Sedekah

June 30, 2016 § Leave a comment

Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?
______________________________

Sebagaimana firman Allah:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ

“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}

Kenapa dia tdk mengatakan,
“Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau
“Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?

Berkata para ulama,
Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal…

Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya…

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

Dan, bersedekah-lah atas nama orang-orang yg sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka…

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim)

Oleh:
Syeikh Maher al’Mueaqly

Surat Profesor Muhammad Yunus kepada Member Grameen Bank

January 3, 2013 § Leave a comment

pic from: muhammadyunus.org

pic from: muhammadyunus.org

Mungkin tokoh ini cukup familiar bagi sebagian kita. Beliau adalah Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh. Bank yang beliau dirikan memberi kredit mikro bagi penduduk desa. Tak hanya pinjaman namun Grameen Bank telah memberikan pelajaran berharga untuk dunia di bidang kemanusiaan. Tak ayal, pada 2006 Muhammad Yunus bersama Grameen Bank menerima penghargaan nobel perdamaian.

Sebagian cuplikan perjuangan awal membangun Grameen Bank hingga waktu dekat ini dituangkan dalam surat beliau kepada anggota Grameen Bank. Saya beroleh semangat dan motivasi dari surat ini. Bagi yang ingin membaca surat tersebut dalam versi Bahasa Inggris silakan kunjungi situs Grameen Bank, atau untuk edisi terjemahan, saya tulis di sini:

Surat Profesor Muhammad Yunus kepada Member Grameen Bank

15 Mei 2011

Kepada
Pemilik Grameen Bank yang saya cintai dan
Anggota Grameen Bank yang saya banggakan:

Tiga puluh lima tahun lalu. Saya tak pernah mengira akan memulai sebuah bank yang memberikan pinjaman untuk orang susah, terutama perempuan miskin di pedesaan. Sebagai guru, saya selalu sibuk mengajar di kelas dan jauh dari realita di lapangan. Namun kemudian, Desa Jobra membawa masa depan saya ke arah yang sepenuhnya berbeda. Di sana, untuk pertama kalinya saya menyaksikan bagaimana lintah darat memperbudak penduduk. Terpikirkan sekiranya saya bisa berikan pinjaman kepada penduduk miskin, desa ini akan terbebas dari cengkraman lintah darat.

Itu yang kemudian saya lakukan. Saya tak pernah mengira bahwa hal ini menjadi panggilan hidup. Saya belajar banyak dari duduk bersama, berbicara dengan ibu-ibu di Desa Jobra; saya tahu banyak hal yang tak pernah saya bayangkan. Ingin sekali melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu mereka. Meski sedikit, bersama para mahasiswa saya bisa membantu ibu-ibu miskin. Saya menjadi penjamin pinjaman bank untuk mereka. Perempuan desa saat itu belum mengerti menabung. Di samping pinjaman tersebut, saya tambahkan program menabung. Program menabung dimulai dari 25 Paisa per pekan. Dan, hari ini, total tabungan para peminjam mencapai 6 milyar Taka!

Di awal berdirinya bank ini, para peserta belum bisa baca tulis. Kami mulai mengajari mereka dengan menulis nama masing-masing. Menulis di tanah tanah dengan kayu. Hingga kemudian saya membuat Proyek Grameen Bank.

Seiring dengan inisiatif Bank Bangladesh, di Kota Tangail saya lakukan program yang pernah saya buat di Jobra. Saya ceritakan kepada para perempuan di desa-desa sekitar Tangail tentang kegiatan di Desa Jobra. Mereka terlihat semangat dan antusias untuk melakukan hal yang sama. Proyekpun menyebar mulai dari Tangail, Rangpur, Patuakhali, Dhaka, hingga Rajshahi.

Secara bertahap, kalian ikut bergabung dengan Grameen Bank. « Read the rest of this entry »

Bapak Tua Penjual Amplop Itu

July 27, 2012 § Leave a comment

Menarik untuk dibaca. Meminta-minta memang terlihat lebih gampang, namun bekerja, dengan hasil sedikit atau banyak, membawa kepada kemuliaan. Dan setelah usaha, masalah rezki serahkan pada Allah.

Catatanku

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli…

View original post 693 more words

Ubuntu: I am Because We Are

July 20, 2012 § 3 Comments

Sebelum Eropa atau bangsa lainnya menjejakkan kaki di selatan Afrika, sudah ada satu suku mendiami kawasan tersebut. Suku Xhosa nama suku itu. Hingga kini, suku dengan ras asli Afrika itu masih eksis.
Beberapa waktu lalu, pernah seorang antropolog mendatangi pedalaman Afrika. Singgah di perkampungan Xhosa dan bertemu dengan penduduk setempat. Saat bertemu dengan anak-anak Xhosa, sang antropolog mengadakan sebuah lomba.

Sekeranjang penuh buah-buahan diletakkannya di bawah sebuah pohon. “Siapapun yang bisa sampai ke pohon tersebut pertama kali,” ujar Sang Antropolog, “adalah pemenangnya. Dia berhak mendapatkan seluruh buah.”

Serupa dengan lomba pada umumnya, tentu setiap peserta bersiap-siap. Namun, ketika lomba dimulai, anak-anak Xhosa saling bergandengan tangan satu sama lain. Mereka lari bersama-sama. Serempak hingga garis finish. Tak ada yang kalah dalam lomba tersebut. Semua tiba di garis akhir dalam waktu bersamaan. Semua menjadi pemenang. « Read the rest of this entry »

Kelas Kehidupan di Lereng Merapi

June 23, 2012 § 4 Comments

Merapi paska erupsi, diambil dari Desa Glagaharjo

Tidak ada yang istimewa dari rumah kecil itu. Serupa dengan ratusan rumah bantuan sosial lainnya, rumah itu juga demikian. Separuh kebawahnya dibangun dari batako dan separuh keatas bilik. Lantainya masih semen dan langit-langitnya langsung asbes. Jika engkau sempat berkunjung ke Dusun Kali Tengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan yang berposisi di lereng Merapi, rumah-rumah ini nyaris seragam ukuran dan bentuknya.

Begitu pula rumah Sumarjo (70 tahun), lelaki tua yang sejak lahir hingga saat ini menetap di lereng Merapi. Berdua saja dia dengan istrinya mendiami dan mengurus rumah sederhana itu. Dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal bersama keluarga mereka. Anak-anak mereka sudah mandiri. Hidup berpisah dari orang tua mereka. Pasangan tua itupun dituntut untuk mandiri. Hidup berpisah dari anak-anak mereka. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the share means care category at jannahTees.