Hal Gampang yang Sulit

December 16, 2019 § Leave a comment

Hal yang terlihat sangat gampang namun kita masih kesulitan melakukannya. Bahkan, hal ini menjadi salah satu solusi dari masalah besar di dunia.

Menyikapi Stres [NC#21]

November 21, 2017 § Leave a comment

Sepanjang pikiran bisa berjalan normal dan perasaan masih peka, stres adalah konsumsi setiap manusia. Tidak ada manusia normal yang tak luput dari masalah yang berarti tak ada orang yang tak stres. Hanya saja, cara penerimaan setiap individu berbeda. Ada yang menyikapi dengan baik, namun banyak yang mengambil pelarian untuk melupakan masalah. Bentuk terkecilnya adalah dengan mengundur mengerjakan masalah tersebut; procrastionation dan bentuk terparahnya adalah obat-obatan atau putus asa. Tidak sedikit pula melakukan pelarian dengan cara paling sederhana dan murah gratis: tidur. Namun, pelarian itu hanya menunda stres sementara. Setelah itu, kepala kembali berat, bahkan berlipat ganda dari level stres sebelumnya. « Read the rest of this entry »

Barang Melahirkan Barang [NC#19]

November 19, 2017 § Leave a comment

be more with less

Sudah lama sekali Polan ingin mengganti handphone. Meski masih berfungsi normal, ponsel lamanya sudah lanjut usia. Jaman sekarang, 3 tahun menggunakan gadget yang sama terhitung sangat lama. Ponselnya sudah tidak bisa dipakai sebagai laiknya telepon genggam yang mobile. Karena jika dicabut dari casan, usia ponsel itu hanya bertahan beberapa jam. Dijual lagi pun harganya akan jatoh hingga seperdelapan harga barunya. Dipakai sehari-hari tidak mungkin karena sudah hidup segan mati tak mau.  Jikapun mau mengganti baterai, sudah langka yang menjual baterai ponselnya. Sekalinya ada, barang KW. Jika asli, harganya sudah sama pula dengan harga ponselnya saat ini jika dijual. « Read the rest of this entry »

Zakat dan Pisang [NC #14]

November 14, 2017 § Leave a comment

Kulit-Pisang

Di tempat kerja kami terjadi pergantian pimpinan. Begitulah waktu, benar-benar tanpa ampun. Sehebat apapun manusia, jika bertemu dengan waktu, mereka tak sedikitpun punya kuasa memperlambat, apalagi menghentikan.

Pimpinan yang lama pensiun, diganti dengan pimpinan baru. Salah satu hal yang saya suka dari pimpinan baru ini adalah tindakannya yang lugas. Simpel. Interuksi yang diberikan jelas, jika salah langsung ditegur dan jika benar tak sungkan-sungkan, beliau langsung menyebut nama kami, orang-orang biasa, ini di forum besar. Diantara hal yang lugas dari pidatonya tadi adalah bahasan tentang zakat.

Zakat itu ibarat kita makan pisang. Begitu analoginya membuka pembicaraan. Pidato tersebut terkait gaji karyawan yang sudah melebihi nisab, perlu dikeluarkan zakatnya. Ibaratnya pisang, tak ada manusia yang memakan seutuhnya, karena memang bukan seluruhnya buat kita. Kulitnya perlu dikupas terlebih dahulu. Itu bukan untuk kita. Maka kulit pisang bisa dijadikan pupuk untuk tumbuhan atau makanan untuk ternak.

Begitu juga harta. Penghasilan yang kita peroleh, tak seratus persen untuk kita konsumsi. Ada hak orang lain di sana yang perlu dikeluarkan sebelum harta tersebut dimakan. Hanya sedikit. 2,5%. Dengan artian jika penghasilan kita 10 juta, hanya 250 ribu yang harus dikeluarkan. Berapalah 250 ribu dibanding 9.750.000 yang bisa dinikmati.

Zakat adalah kewajiban, dengan artian, tidak menunaikan zakat berarti menanggung dosa. Selain sebagai kewajiban kepada Allah, zakat memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap sesama. Menurut riset kecil-kecilan saya, diantara penyebab tindak kriminal adalah karena kesenjangan ekonomi. Orang kayanya lupa dengan yang miskin. Akibatnya, bagi yang miskin, harta orang kaya adalah sasaran.

Disamping sebagai kewajiban kepada Allah, dan bentuk sosial kepada sesama, jumlah zakat yang dikeluarkan itu juga sangat kecil. Agaknya, keterlaluan juga jika dari sekian banyak harta yang Allah beri buat kita, mengeluarkan hanya 2,5% kita juga tak mau.

Jika memang masih tidak mau, serupa analogi pimpinan saya tadi, kita ibaratnya makan pisang berikut kulitnya. Sakit perut? Ya, bisa jadi harta yang tidak dikeluarkan itu menjadi penyakit. Seperti orang yang maksa mau makan pisang berikut kulitnya. Ini baru analogi pisang, bagaimana jika analoginya durian.

Tenabang, 1.58 pm

No I in T E A M [NC#13]

November 13, 2017 § Leave a comment

Pergantian tahun satu bulan setengah lagi. Jika pekerjaan serupa maraton yang dilakukan selama satu tahun, maka pekan-pekan ini adalah waktunya sprint. Berlari sekencang mungkin untuk mencapai finish. Begitu juga dengan tempat saya bekerja. Ada beberapa target yang harus diselesaikan disamping mempersiapkan bahan untuk rapat akhir tahun. Pada rapat akhir tahun, rencana kerja selama satu tahun ke depan akan dibahas. « Read the rest of this entry »

Antara Karir dan Ibadah [NC#10]

November 10, 2017 § Leave a comment

Sebenarnya saya tidak tahu akan menulis apa hari ini. Kemarin satu hari saya sama sekali tidak menulis. Kata orang, hal-hal yang “terlalu” tidak baik buat otak. Terlalu sedih membuat kita sulit berpikir, demikian juga terlalu bahagia. Dua hari terakhir ini agaknya saya terlalu bahagia sehingga pikiran menjadi random dan bingung apa yang harus saya ketik hari ini. « Read the rest of this entry »

Moms and Home [NC#8]

November 8, 2017 § 1 Comment

Home

Here we go, it is Wednesday again. Which means it is time to hit a blog with some English. Because today is English-Writing Wednesday. Eww!

Thing I want to talk about right now is: home. Who doesn’t love come home? Can you imagine how awesome the summer day that has come and gone away in Paris and Rome is? So beautiful isn’t it? But what? Bublé wants to go home. The beauty of Paris and exotic of Rome still nothing compared to the precious of home, he said. He must be so sure about that. He even made it a song. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the lifestyle category at jannahTees.