Rumah Minimalis

October 23, 2017 § Leave a comment

Memiliki rumah sendiri adalah idaman setiap orang. Terutama orang-orang dengan status serupa saya: baru membina keluarga. Saat masih berdua, mengontrak bukanlah masalah. Kami tak butuh pernak-pernik yang beragam di rumah. Cukup tempat tinggal yang tenang, sanitasi lancar, layak untuk ibadah, istirahat dan membaca buku sambil berbincang di hari libur. Rumah luas atau tidak, bukan termasuk pertimbangan. Malah kami cenderung memiliki rumah dengan ukuran yang biasa saja. Lebih gampang dirapikan. Dan jika pindah kontrakan pun lebih sedikit barang yang harus dibawa.

Namun setelah memiliki bayi, terutama saat bayi sudah mulai merangkak, berdiri dan menarik apa saja yang bisa dia raih; pertimbangan baru bermunculan. Sepertinya kita perlu rak supaya barang-barang tidak dijangkau bayi, perlu ruangan yang sedikit lebih luas, perlu karpet karena duduk di lantai ubin tidak baik, perlu ruangan dengan ventilasi yang bagus dan seterusnya.

Intinya adalah punya rumah sendiri. Sebab, mendisain rumah kontrakan terasa tanggung. Tahun depan boleh jadi kami pindah dan akan semakin kesulitan jika harus pindah-pindah dengan perabotan yang semakin banyak. Ditambah lagi banyak teman yang menganjurkan mending beli rumah dari sekarang. Pertimbangannya banyak, yang paling sering disebut adalah harga tanah semakin lama semakin tinggi. Artinya harga rumah terus naik. Jika tak punya rumah sekarang, akan semakin mahal jika dibeli tahun-tahun depan.

Maka, dua bulan terakhir perbincangan kami—saya dan istri—tidak jauh dari rencana membeli rumah. Kami memang berniat untuk membeli rumah secara tunai. Berutang tidak ada masalahnya, hanyasaja saya punya alasan sendiri untuk tidak berutang ke bank, baik yang syariah apatah lagi yang konvensional.

Hari itu kami survey rumah yang akan dibeli dan berbincang langsung dengan pemilik. Rumahnya masih baru, belum tiga tahun. Tidak jadi ditempati karena pemilikya pindah tugas. Beberapa bagian bangunan terlihat kurang baik. Masih terhitung wajar karena dua tahun tak berpenghuni. Namum overall tidak jauh dari ekpsektasi. Hanya saja harganya di atas budget tabungan. Saya sudah duga itu. Karena itu kami berencana meminjam tambahan dari mama dan beliaupun sudah menyetujui.

Sepulangnya saya masih sibuk mencari informasi di internet atau bertanya pada orang sekitar dan saudara siapa tahu ada alternatif rumah yang lain dengan harga lebih terjangkau, lokasi lebih cocok, atau keamanan lebih baik. Dua bulan terakhir hingga sore itu kepala saya dijejal dengan rumah dan tentu saja beban pikiran akan berutang. Meski kepada orang tua sendiri, ini kali pertama dalam hidup saya berutang dengan angka yang menyentuh bilangan ratusan juta.

Sore itu istri saya menyampaikan pendapatnya, “Bagaimana jika kita mengontrak lagi saja tahun depan, Bang?”

Istri saya seorang introvert. Memberikan pendapat bukan hal yang biasa baginya. Apalagi pendapat yang bertentangan dengan kondisi saat ini dimana kami, rasanya, sudah yakin sekali akan membeli rumah. Selama berumah tangga saya yang selalu mendominasi rencana-rencana kami. Jika terasa tidak begitu penting, istri saya cenderung ikut dengan ide yang saya sampaikan.

“Mungkin menurut Allah kita memang belum waktunya punya rumah sendiri. Lagian, tidak ada salahnya mengontrak (lagi).”

Jika memang belum cukup dana terkumpul berarti belum waktunya punya rumah. Tidak ada salahnya mengontrak. KH Agus Salim saja terbiasa mengontrak dan beliau adalah seorang menteri luar negeri di zaman di mana harga tanah tidak se-luar-biasa sekarang. Urusan nanti harga tanah naik seberapa persen, kalau memang kata Allah sudah waktunya punya rumah, nanti akan ada pula dana untuk rumah seharga apapun.

Malam itu saya putuskan untuk tidak jadi membeli rumah. Saya telpon orang tua perihal tersebut dan mengatakan tidak jadi meminjam uang. Saya kabari juga pemilik rumah tersebut. Dan ajaib, pikiran saya jadi segar. Tidak perlu lagi menghabiskan waktu di depan internet mencari-cari informasi rumah. Juga beban kepala terasa jauh lebih ringan karena tidak ada pikiran “saya akan berutang hingga beberapa tahun ke depan”.

Qanaah, atau kata orang sekarang: minimalis, adalah pilihan. Berkejar-kejar dengan apa yang diinginkan, sibuk dengan hal tersebut, terlilit utang, dan seterusnya; atau bercukup-cukup dengan apa yang ada dan bahagia. Maka saya memilih untuk menempati rumah sebagaimana yang saya inginkan: tenang, cukup luas, berhalaman, akses mudah, lingkungan aman; tanpa harus berutang dan masih memiliki tabungan. Namanya mungkin dianggap sepele: ngontrak. Tapi kenyamanan yang saya miliki sama dengan kenyamanan yang dimiliki orang lain. Semoga kami dimasukkan dalam golongan mereka yang beruntung.

Sungguh beruntung mereka yang muslim, diberi rezki secukupnya, lalu Allah jadikan mereka qanaah dengan rizki tersebut. ~HR. Muslim

Rumah minimalis. Tentu saja ini bukan tulisan tentang disain rumah. Ini adalah gambaran sebuah rumah bagi seorang yang ingin minimalis.

Depok 9.17 pm

Advertisements

Migrasi Masalah

September 28, 2017 § Leave a comment

Ayah saya dulu pernah bilang, hidup itu ibarat berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya. Ini bukan ucapan pesimis. Ayah saya tidak pernah memperlihatkan laku pesimis dalam hidupnya. Tidak sekalipun, meski hidup entah sesulit apa waktu itu, ayah masih menjadi orang paling hebat menghadirkan senyum-senyum kami di rumah.

Ucapan tersebut tak lain tentang persiapan menghadapi hidup. Kita boleh (bahkan harus) berharap hal-hal terbaik terjadi dalam hidup. Namun, kita perlu bersiap terhadap kemungkinan terburuk sekalipun.

Setelah berkeluarga, menjalani sendiri atau mendengar cerita dari mereka yang sudah hidup lebih lama dari saya; kalimat ayah itu benar. Kita memang sejatinya berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya. Dan tak seorangpun pernah luput dari masalah.

Ada orang yang sehat fisiknya, tidak harmonis dengan pasangannya. Ada yang sehat, hidup harmonis, ekonomi dan pendidikan sudah settled, namun belum dikaruniai anak. Ada yang memiliki banyak anak, berturut-turut, sangat mudah malah, namun harus berbagi jatah makan antar keluarga. Jangankan bekerja tetap, tetap bekerja saja sudah sukur. Ada yang serasi dengan pasangan, terdidik, pekerjaan mapan, punya anak; namun selalu konflik dengan mertua.

Ada pula yang tak punya masalah besar dalam keluarga maupun masyarakat namun tak henti-henti dirundung penyakit. Ada yang sehat-sehat saja, ekonomi makmur, kerjaan mapan, namun itu dia, setiap hari disibukkan dengan pekerjaan-mapan-nya. Kesulitan untuk adil antara kerja dan keluarga, apalagi untuk memihak keluarga. Lupa keluarga. Lupa menikmati hidup.

Ada yang terlihat serba lengkap namun tak bisa luput dari utang. Setiap pagi saat bangun tidur yang diingat adalah membayar utang. Ada yang serba lengkap malah namun tak pernah merasa puas. Selalu ingin yang lebih. Lupa menikmati kehidupan yang sudah ada. Orang lain ingin dapat hidup seperti mereka, namun mereka ingin hidup seperti orang lain. Ini juga masalah.

Masalah hanya akan berhenti nanti, kelak jika kita sudah berhenti bernafas. Siapapun yang masih bernafas akan senantiasa dirundung masalah. Hanya saja bagaiamana menyikapi masalah tersebut yang berbeda.

Ada yang fokus dengan hal-hal positif yang dia alami, semua yang negatif serta merta menjadi blur. Luput dari pandangannya. Dia serupa orang yang tak pernah mendapat masalah. Dialah yang kemudian kita kenal sebagai orang-orang yang bersyukur. Bukan karena tidak pernah memiliki masalah namun karena melihat berkah yang mereka terima lebih banyak ketimbang musibah. Dan saat melihat musibah, mereka berharap itu karena Allah sayang dengan mereka. Apapun yang terjadi, mereka adalah orang paling bahagia.

Maka, benarlah ucapan Ibn Taimiyyah, sebagaimana ditulis murid beliau, Ibnul Qayyim dalam Madaarij as-Saalikiin:

Sungguh di dunia itu terdapat surga. Mereka yang tidak memasuki surga di dunia, tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.

Maka, selamat berbahagia dan tak usah pusingkan masalah yang berpindah-pindah itu. [MFK]

Tenabang, Jakarta

Hal Sepele itu Tidak Eksis

September 8, 2017 § Leave a comment

Bulan ini ada dua teman yang berulang tahun di tempat saya bekerja. Selisihnya hanya satu hari. Teman pertama bekerja di pusat, dan satunya bekerja di wilayah. Teman pertama jabatannya lebih tinggi daripada yang kedua. Dan kemarin siang saya membaca banyak ucapan selamat, doa-doa kebaikan dan foto-foto potong kue di grup WA kantor; untuk teman yang pertama.

Saya bukan tipikal orang yang terbiasa dengan tradisi ulang tahun. Namun jika ada yang merayakannya, kenapa pelit untuk memberikan doa-doa yang baik. Siang itu saya sampaikan ucapan selamat, seuntai doa disertai foto kue yang saya dapat secara random dari google; untuk teman yang pertama tentunya.

Sorenya saya baru sadar bahwa teman satunya lagi, yang bekerja di wilayah, juga berulang tahun. Sama seperti sebelumnya, saya ucapkan selamat ulang tahun di grup WA disertai dengan foto kue yang saya ambil secara acak; untuk teman kedua.

Saya melihat sepele saja postingan tersebut. Mengucapkan selamat, doa, foto kue. Semua orang melakukannya, mulai dari anak sekolah hingga para senior. Tapi setelahnya saya dikabari oleh teman yang satunya tadi.

“Dek, makasi ya ucapan selamatnya di grup sore kemarin. Bos baru tau saya ulang tahun di bulan ini. Barusan beliau manggil saya dan bilang, ‘Kenapa ga kasi tau kalo ulang tahun’. Pagi ini kantor menyediakan kue untuk saya, ucapan selamat dan tak hanya itu, asisten kota yang sedang bertamupun turut serta merayakan.”

***
Saya percaya pada segala yang terjadi dalam hidup, tidak ada yang kebetulan. Saya mengirim ucapan selamat, kantor wilayah menyediakan perayaan kecil-kecilan untuk teman saya, saya menulis kisah ini di blog, atau ada yang kemudian membacanya. Semua tak terjadi kebetulan.

Begitu juga dengan hal-hal sepele. Apapun bentuknya, tidak ada yang kebetulan semata. Dulu, ada sang koki yang lupa memasukkan baking powder dalam adonan bolu coklatnya. Sepertinya kebetulan, namun konon ceritanya itulah awal mula kita mengenal kue bernama brownies.

Dulu sekali, abad ke-17, suatu malam, sebuah apel jatuh tegak lurus dari pohonnya. Kejadian biasa itu disaksikan oleh seorang pemuda yang tengah menikmati teh di kebun tersebut. ‘Hanya’ adegan apel yang jatuh yang didapati oleh seorang pemuda, begitu yang dikisahkan Wiliam Stukeley, seorang arkeolog. Namun hingga hari ini kita mengenal teori gravitasi yang digagas oleh pemuda yang tak lain bernama Isaac Newton itu. Dia menjadi tokoh besar dalam Fisika. Lebih dari itu, diapun disebut-sebut di lembar sejarah. Michael Hart menulis 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang masa, dan nama Isaac Newton menempati posisi kedua, tepat setelah Nabi kita tercinta, Muhammad SAW.

Kadang, setiap kali saya membayangkan betapa besar konsekwensi yang lahir dari hal-hal sepele; saya jadi yakin bahwa di dunia ini tak ada hal yang benar-benar sepele.

Dalam hal kebaikan, Rasul mengajarkan, “Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun; meski itu hanya sekedar memberikan senyuman kepada saudaramu.” Kita tidak pernah tahu dampak senyuman tersebut berikutnya.

Saya suka tersenyum sendiri jika ingat hal-hal ‘sepele’ yang berpengaruh besar dalam hidup saya, atau dalam kisah dari keluarga dan teman-teman saya. Kemudian juga saya jadi tersentak. Sebab, setiap hal-hal sepele tersebut, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, sekecil atom-pun; akan dipertanyakan di akhirat kelak. [MFK]

| Tenabang, Jakarta

The Why

August 29, 2017 § Leave a comment

Nyaris semua yang kita lakukan dimulai dan dapat dinilai melalui pertanyaan ini: kenapa?. Jika diibaratkan pohon, the why adalah akarnya. Setiap amal, sebagaimana kata Rasul, bergantung pada niat. Jika niatnya kuat, serupa akar, maka pohonnya akan teguh. Setelah why, perkara how dan what akan ikut saja.

Begitu juga menulis. Awal-awal saya menulis alasannya adalah ayah. Ayah sangat mendukung anak-anaknya untuk menulis. Menulis apa saja, di mana saja. Lebih idealis lagi, ayah mengatakan, minimal dua jam setiap hari untuk menulis. Tempo dua jam untuk menulis terdengar biasa  saja. Namun tanpa kebiasaan, menulis dua jam terasa sangat lama. Saat itu, di usia sekolah, setidaknya saya sudah mulai menulis apa saja. Tulisan yang paling saya ingat dan dipuji berkali-kali oleh ayah adalah tulisan tentang mengantuk. Saya rasa tulisan tersebut biasa saja, namun ayah menyebutnya berulang-ulang dan dibubuhi pujian. Dipuji serupa itu, saya terus menulis.

Setelah beranjak sekolah lanjutan tingkat atas, alasan saya menulis adalah curhat. Seorang anak yang tidak biasa berpisah dari orang tua lalu harus tinggal di asrama. Bertemu dan hidup 24/7 bersama anak-anak terbaik di sekolah unggulan. Gejolak muda yang penuh warna. Melahap beragam buku. Apalagi yang saya butuhkan jika bukan curhat. Saat itu, media terbaik untuk curhat adalah menumpahkan perasaan dalam bentuk tinta di atas kertas. Terutama urusan wanita, malu sekali rasanya jika dicurhatkan pada manusia. Menulis adalah pelarian yang sempurna.

« Read the rest of this entry »

Menulis (Lagi)

October 17, 2013 § Leave a comment

Saya memulai menulis lagi. Dan ini untuk yang kesekian-kalinya. Serupa kalimat satir Mark Twain tentang berhenti merokok, begitu pula keadaan menulis saya. “Giving up smoking,” tulis Twain, “is the easiest thing in the world. I know, because I have done it a thousand times.” Bagi saya, memulai menulis, adalah hal termudah di dunia ini. Saya sudah melakukannya ribuan kali. Memulai, terhenti, memulai lagi, terhenti lagi, memulai…

Saya buka kembali blog, tulisan terakhir saya post pada 26 Juli. Nyaris tiga bulan lalu. Itupun bukan tulisan saya melainkan copas-an dari pesan-pesan emasnya Ustadz Rahmat Abdullah. Postingan yang murni saya tulis, bukan copas juga bukan terjemahan, adalah pada 2 Februari. Delapan bulan lalu. Iya, saya bukan blogger sejati agaknya.

Sejak pindah rumah dari multiply ke wordpress, kwantitas menulis saya menurun drastis. Berhubung menulis adalah sebuah kebiasaan, dan kebiasaan adalah kerja yang selalu dirutinkan; maka menurunnya kwantitas menulis berbanding lurus dengan kwalitasnya. Kwalitas menulis saya pun memburuk dari yang sebelumnya—menurut saya—baik. Atau me-lebih-buruk dari yang sebelumnya—menurut para masters atau mungkin haters :P—sudah sudah buruk jua.

Jika saya buka kembali catatan harian, rutinitas menulis saya tak seburuk yang di blog. Dua bulan lalu, ya, dua bulan lalu, saya terakhir menulis jurnal harian. Dan, itupun beberapa paragraf saja. Pada jurnal hari-hari sebelumnya hanya beberapa paragraf juga. Meminjam ucapan Imam At-Thabari, qad maatatil himmah. Innalillah :(

Malam ini saya terdorong untuk menulis lagi. Bukannya saya baru pulang dari seminar motivasi, juga bukan karena ingin ikut lomba blog, hanya saja, saya merasa harus menulis di ruangan ini. Di ruangan dimana orang yang saya cintai pernah menghabiskan malamnya dengan kumpulan kata-kata.

Keep calm and ask dadMalam ini saya berada di ruang kerja almarhum ayah. Di ruang ini ayah bekerja keras supaya kami bisa tetap sekolah. Siang hari, jika ayah tidak menenteng meja lipatnya untuk dagang kaki lima di Pasar Bukittinggi, kamar ini menjadi ruang bekerjanya membuat pesanan orang. Dan, malam hari, kamar ini selalu penuh sesak dengan jutaan inspirasi ayah yang beliau tuangkan dalam aksara.

Disamping itu, ruang ini juga menjadi saksi bisu dimana kami sering bercerita kepada ayah apa saja dari hal penting sampai hal tak penting sama sekali. Dari impian dan rencana masa depan sampai cerita picisan anak sekolahan yang semuanya selalu disimak ayah dengan sangat baik dan serius. Tak satupun dari ucapan kami yang terlewat tak didengar. Bagi ayah, setiap cerita kami adalah anugerah. Saya ingin ceritakan kepada kamu bagaimana ayah menghargai setiap cerita kami. Sederhana sekali: ayah sibuk bekerja, saya atau mungkin saudara saya datang dan memulai bicara, serta merta ayah hentikan kerjanya lalu fokus mendengar celoteh kami. Kapanpun itu.

Kamar ini menyimpan banyak sekali kenangan. Bagiku, kamar ini menjadi kenangan dimana ayah pernah sangat bahagia, dan mengatakan, “Tidak bisa tidur karena susah, ayah sudah sering; tapi tak bisa tidur karena bahagia, baru kali ini.” Lalu, beberapa hari setelah itu, Allah wafatkan ayah.

Gurun Aur, 17 Oktober 2013

In Memoriam, Ayah

May 30, 2013 § 2 Comments

Sebuah catatan kecil, dua tahun lalu:

____________________

Sebelum membaca dan tahu deretan tokoh yang tak akan kekal nama mereka hingga hari ini kecuali karena idealisme yang diikuti oleh konsistensi terhadap idealisme tersebut; aku sudah punya figur sendiri. Sosok yang—menurutku—sangat konsisten dengan segala yang pernah dia ajarkan. Aku tahu, sebab, aku pernah membaca banyak tulisannya, bercerita lama, curhat, hidup, interaksi tanpa henti; bahkan, aku juga dibesarkan dan berutang banyak pada sosok ini. Terkesan subjektif, memang. Namun, di belahan bumi mana seseorang mampu bertindak objektif untuk saat ini? Maka, ijinkan aku menggunakan hak-ku untuk berbicara subjektif selagi tak menyinggung hak orang lain.

Bagiku saat itu, ayah adalah sosok paling idealis yang pernah aku kenal dalam hidup. Tidak dalam satu-dua perkara, namun, pada banyak hal dia akan bertahan dengan apa saja yang diyakininya sebagai kebenaran. Setiap kali berdebat, mulai dari masalah tidak mengikut-sertakan adikku kursus bahasa Inggris yang dipaksakan diwajibkan oleh sekolah hingga kasus-kasus terkait birokrasi. Aku tak perlu bercerita banyak, nenek yang pernah membesarkan ayah, terang-terangan mengatakan: jangankan kalah, seri saja dia tak mau.

Saat awal berumah tangga, ayah lebih memilih meninggalkan toko emas besar di Jakarta dan berangkat ke Surabaya berdagang asongan rokok—korek api. Saat itu ayah masih bekerja dengan pamannya, kakekku. Dan, alasan kenapa memilih jalanan panas Surabaya ketimbang toko emas besar di Jakarta Pusat sana bukanlah perkara utang melilit atau gaji kecil. Alasannya sederhana: para pelanggan toko emas adalah orang kaya dan tabiat orang kaya selalu saja begitu: melihat segala sesuatu berdasarkan materi. Konsekwensinya, manusia juga ditakar secara serampangan dengan barometer kekayaan. Yang kaya adalah boss, kemudian yang miskin menjadi warga kelas dua, tiga, empat dan seterusnya. Dan, hari itu, adalah hari terakhir ayah di toko emas pamannya karena satu hal: mengusir pelanggan dari toko. Ayah tidak dikeluarkan dari toko karena dia bekerja di toko pamannya sendiri. Yang dilakukan ayah saat itu adalah memilih keluar.

Sejak mendengar kisah tersebut, aku percaya pada kebijaksanaan konvensional bahwa mereka yang idealis, hidupnya susah. Karena memang, setelah itu, kerja ayah tak pernah jauh dari pinggiran jalan. Pernah pada KTP ayah tertulis pekerjaan sebagai wartawan. Namun, itu hanya sebentar, karena setelah itu ayah meninggalkannya dan lebih memilih berjualan yang—lagi-lagi—terkait dengan pinggir jalan.

Menjadi wartawan memang keren. Aku pun dengan sangat bangga mengatakan bahwa ayahku dulunya adalah wartawan. Namun, saat itu, gaji wartawan tak sebanding dengan jerih payah mereka. Terutama bagi kepala sekaligus tulang punggung rumah tangga. Perhitungan gaji berbanding jam kerja adalah hal realistis yang dipikirkan mereka yang idealis sekalipun. « Read the rest of this entry »

Si Abang dan Sang Paman

May 29, 2013 § 3 Comments

Hari ini, enam tahun yang lalu adalah hari terakhir kami bersama ayah. Saya tulis kembali satu diantara cerpen ayah yang sangat dekat dengan  hidup dan kepribadian beliau. Berjudul Si Abang dan Sang Paman. Dimuat di Kompas, pada Minggu 2 Februari 1997. Allahummaghfir lahu.

[] [] []

Si Abang dan Sang Paman

Cerpen Abdulkadir Linin

Si Abang dan Sang PamanSEBELUM menikah memang Si Abang sudah bilang. “Kalau Ani mau menikah dengan saya hanya karena saya punya kedudukan bagus pada perusahaan Paman, saya rasa lebih baik tidak jadi saja, sebab saya sewaktu-waktu bisa berhenti. Saya tidak bisa tersinggung. Kalau saya tersinggung, saya tidak peduli siapa. Biasanya saya mesti melawan.” Ternyata ucapan si Abang bukan sekadar tes mental. Tidak genap dua tahun sesudah menikah, si Abang berhenti dari perusahaan pamannya. Menganggur beberapa bulan. Pulang kampung. Kemudian dengan modal sisa uang yang ada, tunggang-langgang berjualan barang imitasi di kaki lima untuk memenuhi biaya hidup yang makin membengkak karena kenaikan harga barang, dan jadi lebih berat lagi karena lahirnya anak-anak. Sementara itu, jika ada orang pulang kampung dari Jakarta, selalu membawa kabar, bahwa sang paman makin kaya saja. Kabarnya, sekarang, kekayaannya bukan lagi milyar, tapi triliun! Bahkan kabarnya tahun lalu, biaya naik haji si Maryam, Pak Agus dan Bu Neti, separuhnya sang Pamanlah yang membantu.

Si Abang sama sekali tidak goyah dengan kabar itu. Dia tetap dengan kebiasaannya: pagi-pagi ke pasar membawa dagangannya dan beberapa buku. Menunggui dagangannya sambil baca buku. Pulang di sore hari memberikan seberapa penghasilannya kepada Ani. Sejenak bersenda-gurau dengan anak-anak. Lalu hanyut lagi dengan buku sendirian di ruang tamu.

Lain halnya dengan Ani. Kabar itu membuat dia gelisah. Apalagi ketika bulan puasa sang paman pulang kampung. Tetangga-tetangga berdatangan menjenguknya sambil bersabar menunggu sang paman mencabut dompet, kemudian menabur uang yang diberi nama zakat. Dulu lima ribu per kepala. Tahun kemarin, kabarnya naik jadi sepuluh ribu. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the jannahtees journal category at jannahTees.