Menulis (Lagi)

October 17, 2013 § Leave a comment

Saya memulai menulis lagi. Dan ini untuk yang kesekian-kalinya. Serupa kalimat satir Mark Twain tentang berhenti merokok, begitu pula keadaan menulis saya. “Giving up smoking,” tulis Twain, “is the easiest thing in the world. I know, because I have done it a thousand times.” Bagi saya, memulai menulis, adalah hal termudah di dunia ini. Saya sudah melakukannya ribuan kali. Memulai, terhenti, memulai lagi, terhenti lagi, memulai…

Saya buka kembali blog, tulisan terakhir saya post pada 26 Juli. Nyaris tiga bulan lalu. Itupun bukan tulisan saya melainkan copas-an dari pesan-pesan emasnya Ustadz Rahmat Abdullah. Postingan yang murni saya tulis, bukan copas juga bukan terjemahan, adalah pada 2 Februari. Delapan bulan lalu. Iya, saya bukan blogger sejati agaknya.

Sejak pindah rumah dari multiply ke wordpress, kwantitas menulis saya menurun drastis. Berhubung menulis adalah sebuah kebiasaan, dan kebiasaan adalah kerja yang selalu dirutinkan; maka menurunnya kwantitas menulis berbanding lurus dengan kwalitasnya. Kwalitas menulis saya pun memburuk dari yang sebelumnya—menurut saya—baik. Atau me-lebih-buruk dari yang sebelumnya—menurut para masters atau mungkin haters :P—sudah sudah buruk jua.

Jika saya buka kembali catatan harian, rutinitas menulis saya tak seburuk yang di blog. Dua bulan lalu, ya, dua bulan lalu, saya terakhir menulis jurnal harian. Dan, itupun beberapa paragraf saja. Pada jurnal hari-hari sebelumnya hanya beberapa paragraf juga. Meminjam ucapan Imam At-Thabari, qad maatatil himmah. Innalillah :(

Malam ini saya terdorong untuk menulis lagi. Bukannya saya baru pulang dari seminar motivasi, juga bukan karena ingin ikut lomba blog, hanya saja, saya merasa harus menulis di ruangan ini. Di ruangan dimana orang yang saya cintai pernah menghabiskan malamnya dengan kumpulan kata-kata.

Keep calm and ask dadMalam ini saya berada di ruang kerja almarhum ayah. Di ruang ini ayah bekerja keras supaya kami bisa tetap sekolah. Siang hari, jika ayah tidak menenteng meja lipatnya untuk dagang kaki lima di Pasar Bukittinggi, kamar ini menjadi ruang bekerjanya membuat pesanan orang. Dan, malam hari, kamar ini selalu penuh sesak dengan jutaan inspirasi ayah yang beliau tuangkan dalam aksara.

Disamping itu, ruang ini juga menjadi saksi bisu dimana kami sering bercerita kepada ayah apa saja dari hal penting sampai hal tak penting sama sekali. Dari impian dan rencana masa depan sampai cerita picisan anak sekolahan yang semuanya selalu disimak ayah dengan sangat baik dan serius. Tak satupun dari ucapan kami yang terlewat tak didengar. Bagi ayah, setiap cerita kami adalah anugerah. Saya ingin ceritakan kepada kamu bagaimana ayah menghargai setiap cerita kami. Sederhana sekali: ayah sibuk bekerja, saya atau mungkin saudara saya datang dan memulai bicara, serta merta ayah hentikan kerjanya lalu fokus mendengar celoteh kami. Kapanpun itu.

Kamar ini menyimpan banyak sekali kenangan. Bagiku, kamar ini menjadi kenangan dimana ayah pernah sangat bahagia, dan mengatakan, “Tidak bisa tidur karena susah, ayah sudah sering; tapi tak bisa tidur karena bahagia, baru kali ini.” Lalu, beberapa hari setelah itu, Allah wafatkan ayah.

Gurun Aur, 17 Oktober 2013

In Memoriam, Ayah

May 30, 2013 § 2 Comments

Sebuah catatan kecil, dua tahun lalu:

____________________

Sebelum membaca dan tahu deretan tokoh yang tak akan kekal nama mereka hingga hari ini kecuali karena idealisme yang diikuti oleh konsistensi terhadap idealisme tersebut; aku sudah punya figur sendiri. Sosok yang—menurutku—sangat konsisten dengan segala yang pernah dia ajarkan. Aku tahu, sebab, aku pernah membaca banyak tulisannya, bercerita lama, curhat, hidup, interaksi tanpa henti; bahkan, aku juga dibesarkan dan berutang banyak pada sosok ini. Terkesan subjektif, memang. Namun, di belahan bumi mana seseorang mampu bertindak objektif untuk saat ini? Maka, ijinkan aku menggunakan hak-ku untuk berbicara subjektif selagi tak menyinggung hak orang lain.

Bagiku saat itu, ayah adalah sosok paling idealis yang pernah aku kenal dalam hidup. Tidak dalam satu-dua perkara, namun, pada banyak hal dia akan bertahan dengan apa saja yang diyakininya sebagai kebenaran. Setiap kali berdebat, mulai dari masalah tidak mengikut-sertakan adikku kursus bahasa Inggris yang dipaksakan diwajibkan oleh sekolah hingga kasus-kasus terkait birokrasi. Aku tak perlu bercerita banyak, nenek yang pernah membesarkan ayah, terang-terangan mengatakan: jangankan kalah, seri saja dia tak mau.

Saat awal berumah tangga, ayah lebih memilih meninggalkan toko emas besar di Jakarta dan berangkat ke Surabaya berdagang asongan rokok—korek api. Saat itu ayah masih bekerja dengan pamannya, kakekku. Dan, alasan kenapa memilih jalanan panas Surabaya ketimbang toko emas besar di Jakarta Pusat sana bukanlah perkara utang melilit atau gaji kecil. Alasannya sederhana: para pelanggan toko emas adalah orang kaya dan tabiat orang kaya selalu saja begitu: melihat segala sesuatu berdasarkan materi. Konsekwensinya, manusia juga ditakar secara serampangan dengan barometer kekayaan. Yang kaya adalah boss, kemudian yang miskin menjadi warga kelas dua, tiga, empat dan seterusnya. Dan, hari itu, adalah hari terakhir ayah di toko emas pamannya karena satu hal: mengusir pelanggan dari toko. Ayah tidak dikeluarkan dari toko karena dia bekerja di toko pamannya sendiri. Yang dilakukan ayah saat itu adalah memilih keluar.

Sejak mendengar kisah tersebut, aku percaya pada kebijaksanaan konvensional bahwa mereka yang idealis, hidupnya susah. Karena memang, setelah itu, kerja ayah tak pernah jauh dari pinggiran jalan. Pernah pada KTP ayah tertulis pekerjaan sebagai wartawan. Namun, itu hanya sebentar, karena setelah itu ayah meninggalkannya dan lebih memilih berjualan yang—lagi-lagi—terkait dengan pinggir jalan.

Menjadi wartawan memang keren. Aku pun dengan sangat bangga mengatakan bahwa ayahku dulunya adalah wartawan. Namun, saat itu, gaji wartawan tak sebanding dengan jerih payah mereka. Terutama bagi kepala sekaligus tulang punggung rumah tangga. Perhitungan gaji berbanding jam kerja adalah hal realistis yang dipikirkan mereka yang idealis sekalipun. « Read the rest of this entry »

Si Abang dan Sang Paman

May 29, 2013 § 3 Comments

Hari ini, enam tahun yang lalu adalah hari terakhir kami bersama ayah. Saya tulis kembali satu diantara cerpen ayah yang sangat dekat dengan  hidup dan kepribadian beliau. Berjudul Si Abang dan Sang Paman. Dimuat di Kompas, pada Minggu 2 Februari 1997. Allahummaghfir lahu.

[] [] []

Si Abang dan Sang Paman

Cerpen Abdulkadir Linin

Si Abang dan Sang PamanSEBELUM menikah memang Si Abang sudah bilang. “Kalau Ani mau menikah dengan saya hanya karena saya punya kedudukan bagus pada perusahaan Paman, saya rasa lebih baik tidak jadi saja, sebab saya sewaktu-waktu bisa berhenti. Saya tidak bisa tersinggung. Kalau saya tersinggung, saya tidak peduli siapa. Biasanya saya mesti melawan.” Ternyata ucapan si Abang bukan sekadar tes mental. Tidak genap dua tahun sesudah menikah, si Abang berhenti dari perusahaan pamannya. Menganggur beberapa bulan. Pulang kampung. Kemudian dengan modal sisa uang yang ada, tunggang-langgang berjualan barang imitasi di kaki lima untuk memenuhi biaya hidup yang makin membengkak karena kenaikan harga barang, dan jadi lebih berat lagi karena lahirnya anak-anak. Sementara itu, jika ada orang pulang kampung dari Jakarta, selalu membawa kabar, bahwa sang paman makin kaya saja. Kabarnya, sekarang, kekayaannya bukan lagi milyar, tapi triliun! Bahkan kabarnya tahun lalu, biaya naik haji si Maryam, Pak Agus dan Bu Neti, separuhnya sang Pamanlah yang membantu.

Si Abang sama sekali tidak goyah dengan kabar itu. Dia tetap dengan kebiasaannya: pagi-pagi ke pasar membawa dagangannya dan beberapa buku. Menunggui dagangannya sambil baca buku. Pulang di sore hari memberikan seberapa penghasilannya kepada Ani. Sejenak bersenda-gurau dengan anak-anak. Lalu hanyut lagi dengan buku sendirian di ruang tamu.

Lain halnya dengan Ani. Kabar itu membuat dia gelisah. Apalagi ketika bulan puasa sang paman pulang kampung. Tetangga-tetangga berdatangan menjenguknya sambil bersabar menunggu sang paman mencabut dompet, kemudian menabur uang yang diberi nama zakat. Dulu lima ribu per kepala. Tahun kemarin, kabarnya naik jadi sepuluh ribu. « Read the rest of this entry »

Free-dumb

August 17, 2012 § 1 Comment

Catatan satu tahun silam tentang freedom

Aku pernah berpikiran sederhana sekali. Sarkasmenya: dangkal. Tentang arti kebebasan yang aku terjemahkan dalam susunan yang—menurutku—singkat-tepat. Aku mengartikan kebebasan sebagai murni kebebasan semata. Setiap kita memiliki itu. Maka, untukku, hakku adalah segalanya; dan hak tersebut hanya dibatasi oleh hak orang lain. Selagi apa yang ku lakukan tak bersinggungan dengan hak orang lain, I don’t give a dam*.Maka untuk beberapa masa, menjadilah aku manusia yang merasa tak terikat. Tak peduli dengan slogan Naga Bonar: “apa kata dunia”, aku bebas dengan duniaku. Terserah dunia mau bilang apa, bagiku, aku merdeka. Selama aku tak merampas hak orang lain, terserah aku mau berbuat apa.

Itulah yang kemudian ku sebut sebagai freedom.
« Read the rest of this entry »

Konsep Energi Habibie; Bukan Teori

August 13, 2012 § Leave a comment

Aku baru saja pulang dari Al Azhar Conference Center (ACC) usai menghadiri Dialog bersama Prof. DR. Ing. BJ Habibie. Menghadiri secara langsung pembicaraan dari tokoh besar yang namanya—kadang—lebih harum di negeri orang ketimbang di tanah sendiri tidak memberi faedah sebatas informasi belaka. Karena jika informasi, aku bisa mendapatkannya jauh lebih banyak dan praktis melalui perkakas penghubung ke dunia maya. Namun, sisi lain yang ku dapat di sini tak ku dapati dengan media apapun juga; adalah energi.

Aku tak paham dengan teori E=MC²-nya Albert Einstein sebagaimana aku juga tak begitu mengerti penjelasan energi meski telah ku lihat berulang-ulang dalam film dokumenter The Arrival. Tapi, apalah arti sebuah pemahaman. Agaknya aku tak begitu harus bersakit-kepala karena perkara yang tak ku pahami sementara aku bisa merasakannya. Meminjam bahasa Profesor Sofyan—rombongan Pak Habibie yang sempat berbincang dengan kami di stand PMIK tadi, tak sekedar teori dogmatis yang kita butuhkan, namun, aplikasi yang lebih membumi. Buku dengan tipikal seperti ini yang nanti—insyaallah—akan dirampungkan Pak Habibie.

Akupun mendapatkan poin aplikatif meski aku masih butuh penjabaran teoritis berikutnya. Namun, hingga di sini, aku sedikit puas. Bahwa energi yang dimaksudkan itu berhembus dalam ruang ACC itu. Pegal karena berdiri sekian jam terbayarkan oleh pengalaman yang tak ternilai. Karena di sana, aku menahan air mata yang menyimpan haru, sedih dan termotivasi. Haru karena sosok Pak Habibie, sedih atas terbuangnya waktuku dan termotivasi bahwa aku, dengan segala ke-serba-lengkap-an ini, pasti bisa meraih apa yang ku inginkan. Kita tak akan menjadi Pak Habibie karena cukup satu Habibie di dunia ini. Namun, kita mungkin bisa meminjam teorinya itu untuk menjadi kita yang lebih baik. Entahlah jika bisa dibandingkan dengan Pak Habibie atau tidak, yang pasti, sekalipun bisa, bandingan itu tak akan fair. Kita hanya bisa dibandingkan dengan kita yang sebelumnya. Apakah menjadi lebih baik atau sebaliknya—wal’iyadzubillah—lebih buruk.

Pak Habibie menyebutkan tiga kunci sukses. Bukan apa², Pak; namun, aku hanya ingin sedikit mengubah urutannya. Sebab, dalam tulisan tingkat tinggi, urutanpun memberi makna. Maka, izinkan aku memberi makna pada urutan itu dengan mengganti hirarkinya. Bukan karena tulisanku tingkat tinggi, hanya saja aku tengah belajar menjadi penulis dengan karya tingkat tinggi. Dan, please, jangan bapak halangi niatku dengan tidak mengizinkan. « Read the rest of this entry »

Ku Titip Surat ini Untukmu

August 10, 2012 § Leave a comment

Assalamu’alaikum, 

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, 
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
« Read the rest of this entry »

Bahabbik Ya ‘Asal Iswid

January 21, 2012 § Leave a comment

Sudah lewat pula Muharram dan Safar tersisa tiga hari baru sekarang aku bisa mengetikkan kata pertahun 1433 atau 2012 di blog ini. Blogging menjadi seperti sulit sekali. Sejatinya tidak, hanya langkah awal saja yang berat karena aku sendiri sudah mencoba. Setelah langkah pertama, menulis mampu mengalir dengan lancar serupa air yang batu-batu kali besar pun mampu terlewati dengan mudah. Tentang menulis, aku percaya, setelah kemauan ada, keindahan adalah perkara nomor dua. Karena ayah pernah  bertitip pesan sederhana sekali: setiap hari sisihkan waktu dua jam saja untuk menulis. Sederhana, namun pelaksanaannya sering terabaikan. Hal yang sama untuk blog ini.
Dan aku menulisi lagi. Pagi ini, berjarak hanya 6 hari saja antara aku dan keberangkatan pulang ke Indonesia. Ada banyak kenangan belum tertulis yang hendak dicecahkan di sini. Mesir, ‘asal iswid, terbungkus warnanya yang hitam, namun serupa kata orang, fiiha haagah hilwa. Dan benar, Mesir menyimpan banyak mutiara yang belum terjamah sama sekali oleh ku.

Where Am I?

You are currently browsing the jannahtees journal category at jannahTees.