Barang Melahirkan Barang [NC#19]

November 19, 2017 § Leave a comment

be more with less

Sudah lama sekali Polan ingin mengganti handphone. Meski masih berfungsi normal, ponsel lamanya sudah lanjut usia. Jaman sekarang, 3 tahun menggunakan gadget yang sama terhitung sangat lama. Ponselnya sudah tidak bisa dipakai sebagai laiknya telepon genggam yang mobile. Karena jika dicabut dari casan, usia ponsel itu hanya bertahan beberapa jam. Dijual lagi pun harganya akan jatoh hingga seperdelapan harga barunya. Dipakai sehari-hari tidak mungkin karena sudah hidup segan mati tak mau.  Jikapun mau mengganti baterai, sudah langka yang menjual baterai ponselnya. Sekalinya ada, barang KW. Jika asli, harganya sudah sama pula dengan harga ponselnya saat ini jika dijual.

Maka sore itu, usai gajian dibelinya lah handphone baru. Tidak tanggung-tanggung, ponsel flagship untuk merek tersebut. Karena flagship, Polan mendapat jaminan upgrade firmware hingga dua tahun ke depan. Meski tidak ada fungsi yang signifikan bagi Polan, upgrade tersebut termasuk dalam pertimbangannya. Ponsel keren. Teknologi mutakhir. Harganya juga tak tanggung-tanggung. Sama dengan gaji satu setengah bulan Polan. Dan itu hasil tabungannya selama 6 bulan. Tadinya Polan ditawarkan kredit. Namun, pemuda itu tidak terlalu bodoh. Dibelinya lah ponsel tersebut dengan tunai. Selisih harga dengan tawaran kredit kurang-lebih 2 juta rupiah. Setidaknya Polan tak perlu memikirkan cicilan ponsel setelah itu.

Ini ponsel keluaran terbaru. Tidak ada jack earphone nya. Hanya ada satu sambungan kabel yang multifungsi: untuk ngecas, memindahkan data sekaligus colokan earphone. Jika Polan menggunakan earphone standar 3,5 mm, harus ditambah converter agar bisa dicolok ke ponselnya. Kurang praktis, memang. Sebab, ponsel semahal ini tidak didisain untuk perangkat berkabel. Maka Polan melirik tabungannya. Ada beberapa juta. Cukuplah untuk membeli perangkat audio tanpa kabel, earphone bluetooth.

Mengingat itu ponsel mahal, Polan perlu hati-hati. Seluruh bagian depan dan belakang ponsel tersebut berbalut kaca. Kata iklan, kaca ini merek orang utan yang terkenal tidak mudah pecah itu. Meski demikian, Polan tetap tidak aman. Sekuat apapun kaca, kalau sudah menyentuh aspal, tamat.

Maka, dua hal yang dilakukan Polan: pertama membalut layar depannya dengan kaca anti gores yang tebal. Kedua, membeli sarung ponsel. Harga sarungnya juga tidak murah. Gengsi jika ponsel mutakhir tersebut dibungkus dengan sarung murah apalagi kawe. Seharian, dari sore hingga malam Polan keliling-keliling mall mencari sarung terbaik untuk ponselnya. Dan, dapatlah, sarung ponsel yang sesuai. Bahan kulit, model mentereng, cocok dengan ponselnya yang canggih, harganya lebih mahal daripada harga celana Polan.

Ponsel itu benar-benar sangat membantu saat perjalanan dan waktu luang Polan. Setiap pulang-pergi kerja, Polan menghabiskan waktu menunduk menatap layar hape. Satu jam perjalanan, satu jam itu pula dia menunduk. Headset terpasang, mata senantiasa menatap layar super amoled dengan resolusi dahsyat.

Tapi masih ada yang kurang, pikir Polan. Memegang ponsel ini dengan satu tangan menjadi riskan. Ukuran ponsel yang bertambah besar karena casing, mempersulit polan mengoperasikan ponselnya dengan satu tangan. Harus dibantu tangan satunya. Jika di perjalanan, sebelah tangan Polan tetap harus standby untuk menjaga keseimbangan. Hanya sebelah tangan yang bisa digunakan untuk ponsel. Agar tidak jatuh, Polan membeli cincin gagang ponsel agar kelima jemari kanannya bebas di atas layar tanpa takut terjatuh.

Ponsel terbungkus sarung tersebut cukup besar, ditambah tempelan ring dibelakang casing yang membuat ukuran ponselnya makin besar, Polan perlu satu tas khusus untuk membawanya. Jika bekerja membawa tas punggung, sayang isinya hanya ponsel. Lebih banyak kosongnya daripada terisi. Maka dibelilah sebuah tas kecil yang bisa dibawa sehari-hari. Isinya ponsel dan casan. Ditambah beberapa uang receh.

Beberapa pekan setelah itu, Polan mengakses info lebih banyak tentang ponselnya. Ini ponsel canggih, pikirnya. Mahal, lagi. Pasti banyak potensi yang bisa dimaksimalkan selain sekedar foto-foto dan sosial media. Maka dibacanya lah situs-situs teknologi. Dia dapat info terbaru: cukup dengan sebuah dock, maka ponsel ini bisa menjadi serupa komputer sungguhan. Layarnya TV yang terhubung dengan kabel HDMI ke dock, dan keyboard berikut mouse nya tersambung nirkabel melalui bluetooth.

Polan melirik rekeningnya. Tipis. Harus menunggu dua pekan lagi untuk gajian. Terlalu lama, tren ini bisa basi. Maka dipaksakannya juga membeli dock tersebut. Menyicil tanpa kartu kredit. Dock didapat, ponsel sudah ada, TV 32 incinya siap menyuguhkan suasana baru berhenpon melalui layar besar. Pengalaman baru. Polan senang sekali malam itu. Semalaman dia habiskan membuka aplikasi hape melalui layar TV.

Bulan berikutnya Polan membeli kacamata VR. Ponsel ini memiliki resolusi paling tinggi di mereknya. Dengan kacamata Virtual Reality, dia tinggal letakkan ponselnya pada kacamata tersebut, memasangkan sebagaimana kacamata, dan terhamparlah layar bioskop luar biasa besar di depan matanya. Karena tidak terbiasa, setengah jam menonton VR tersebut, Polan mual. Karena baru, pikirnya.

***

Cerita ini tak ada habisnya. Barang melahirkan barang. Saya jadi teringat ucapan ayah saya, buy what you need not what you want adalah ungkapan singkat yang menenangkan. Terlalu banyak barang memang memberi kebahagiaan. Namun sementara. Setelahnya kebahagiaan itu hilang, dan dapat dimunculkan lagi dengan membeli barang lagi. Dan akhirnya, rumah bertumpuk barang.

Seperti saat ini. Pulang dari Jogja, saya menahan diri dari membeli apapun yang akan berakhir menjadi tumpukan. Konsepnya sederhana, belilah apa yang benar-beanr dibutuhkan. Bukan apa yang engkau pikir suatu saat nanti mungkin akan dibutuhkan. Maka, pulang dari Jogja, saya hanya melenggang tenang dengan satu tas. Tidak perlu cek bagasi, tidak pula menambah setengah jam menunggu bagasi di bandara kedatangan, tidak berberat-berat membawa banyak tas. Saya melenggang keluar bandara, mencari ojek terdekat, dan pulang ke rumah.

Jakarta, 11.17am

pic: wallpaper.com

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Barang Melahirkan Barang [NC#19] at jannahTees.

meta

%d bloggers like this: