Migrasi Masalah

September 28, 2017 § Leave a comment

Ayah saya dulu pernah bilang, hidup itu ibarat berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya. Ini bukan ucapan pesimis. Ayah saya tidak pernah memperlihatkan laku pesimis dalam hidupnya. Tidak sekalipun, meski hidup entah sesulit apa waktu itu, ayah masih menjadi orang paling hebat menghadirkan senyum-senyum kami di rumah.

Ucapan tersebut tak lain tentang persiapan menghadapi hidup. Kita boleh (bahkan harus) berharap hal-hal terbaik terjadi dalam hidup. Namun, kita perlu bersiap terhadap kemungkinan terburuk sekalipun.

Setelah berkeluarga, menjalani sendiri atau mendengar cerita dari mereka yang sudah hidup lebih lama dari saya; kalimat ayah itu benar. Kita memang sejatinya berpindah dari satu masalah ke masalah berikutnya. Dan tak seorangpun pernah luput dari masalah.

Ada orang yang sehat fisiknya, tidak harmonis dengan pasangannya. Ada yang sehat, hidup harmonis, ekonomi dan pendidikan sudah settled, namun belum dikaruniai anak. Ada yang memiliki banyak anak, berturut-turut, sangat mudah malah, namun harus berbagi jatah makan antar keluarga. Jangankan bekerja tetap, tetap bekerja saja sudah sukur. Ada yang serasi dengan pasangan, terdidik, pekerjaan mapan, punya anak; namun selalu konflik dengan mertua.

Ada pula yang tak punya masalah besar dalam keluarga maupun masyarakat namun tak henti-henti dirundung penyakit. Ada yang sehat-sehat saja, ekonomi makmur, kerjaan mapan, namun itu dia, setiap hari disibukkan dengan pekerjaan-mapan-nya. Kesulitan untuk adil antara kerja dan keluarga, apalagi untuk memihak keluarga. Lupa keluarga. Lupa menikmati hidup.

Ada yang terlihat serba lengkap namun tak bisa luput dari utang. Setiap pagi saat bangun tidur yang diingat adalah membayar utang. Ada yang serba lengkap malah namun tak pernah merasa puas. Selalu ingin yang lebih. Lupa menikmati kehidupan yang sudah ada. Orang lain ingin dapat hidup seperti mereka, namun mereka ingin hidup seperti orang lain. Ini juga masalah.

Masalah hanya akan berhenti nanti, kelak jika kita sudah berhenti bernafas. Siapapun yang masih bernafas akan senantiasa dirundung masalah. Hanya saja bagaiamana menyikapi masalah tersebut yang berbeda.

Ada yang fokus dengan hal-hal positif yang dia alami, semua yang negatif serta merta menjadi blur. Luput dari pandangannya. Dia serupa orang yang tak pernah mendapat masalah. Dialah yang kemudian kita kenal sebagai orang-orang yang bersyukur. Bukan karena tidak pernah memiliki masalah namun karena melihat berkah yang mereka terima lebih banyak ketimbang musibah. Dan saat melihat musibah, mereka berharap itu karena Allah sayang dengan mereka. Apapun yang terjadi, mereka adalah orang paling bahagia.

Maka, benarlah ucapan Ibn Taimiyyah, sebagaimana ditulis murid beliau, Ibnul Qayyim dalam Madaarij as-Saalikiin:

Sungguh di dunia itu terdapat surga. Mereka yang tidak memasuki surga di dunia, tidak akan memasuki surga di akhirat kelak.

Maka, selamat berbahagia dan tak usah pusingkan masalah yang berpindah-pindah itu. [MFK]

Tenabang, Jakarta

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Migrasi Masalah at jannahTees.

meta

%d bloggers like this: