Angka

July 13, 2012 § Leave a comment

Rabu lalu adalah hari khusus di Jakarta. Hari Pilkada. Sebagian kantor memberikan izin karyawannya untuk terlambat masuk, sebagian lagi malah total libur sepenuh hari. Begitu juga di kantor pemerintahan. Meski tidak semua pegawai memiliki hak pilih karena bukan warga DKI, meski tak sehari penuh pula para pemilih harus berdiri di antrian TPS; beberapa kantor tetap diliburkan.

Bagi teman saya, diliburkan atau tidak, di satu hari itu dia tetap tak akan masuk kerja. Sebut saja namanya Tepus. Di daerahnya, Tepus terpilih sebagai ketua TPS. Menjadi ketua, maka tanggung jawab penuh baginya untuk berjaga di tempat tersebut.

Tidak hanya harus seharian di TPS, Tepus juga mesti benar-benar menjaga diri. Berlaku netral. Tidak berwarna apapun. Tidak ber-angka apapun. Menjadi netral memang tidak mungkin. Namun, menampakkan netral sedikit-banyak bisa diusahakan. Maka, mulai dari sikap, bahasa tubuh hingga kata-kata harus dia teliti selama satu hari itu.

Jangankan salah sebut, bicara normalpun bisa menjadi perkara. Akibatnya, Tepus mesti mengubah beberapa redaksi bahasa yang seharusnya normal, namun menjadi sensitif.

Saat seorang lansia bingung bagaimana cara mencoblos, sebelum masuk kamar TPS, Tepus memberikan arahan, “Bapak, coblosnya sebuah saja ya, jangan lebih.” Tepus harus mengganti kata “satu” menjadi “sebuah”. Menyebut, “Coblos satu saja, Pak” bisa disalah-pahami bahkan boleh jadi dituntut pihak lain yang menjadi fans 2 hingga 6. Entahlah, sang bapak lansia yang bingung tadi menjadi paham cara memilih “sebuah” gubernur atau malah makin bingung.

Saat mencoba microphone, Tepus harus bicara lebih panjang. Tidak cukup tes 1, 2, 3 saja. Sebab, 4, 5 dan 6 tidak tersebut. Jadi harus lengkap-lengkap, “Tes 1, 2, 3, 4, 5, 6…”

Angka, kata-kata, gerakan, bahasa tubuh, sindiran hingga gurauan menjadi hal yang harus diperhatikan benar. Semua harus dipertanggung-jawabkan nantinya. Jika satu angka disebut, yang lainnya tidak, akan ada protes.

Kata Tepus, para pendukung angka-angka itu tidak akan tinggal diam jika angka yang mereka inginkan menang tidak tersebut. Jika ingin menyebut angka, pilihlah di atas 6. Jikapun harus kecil-sama dengan 6, Tepus harus lebih lihai.

Untung hanya sehari. Jika berlama-lama, menunjukpun tak bisa dengan satu jari saja. Hal itu akan mengisyaratkan angka 1. Menolak juga tak bisa dengan menggoyang-goyang kelima jari karena berarti angka 5. Peace atau victory tak lagi bisa dilabelkan dengan jari telunjuk dan tengah karena berarti angka 2. Mungkin saya yang berlebihan, namun, keadaan ini cukup menarik.

Untung hanya sehari. Jika lebih lama, mungkin Tepus tak bisa shalat di tempat umum karena tahiyat harus mengangkat jari telunjuk.

Jakarta,  23 Sya’ban 1433 H

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Angka at jannahTees.

meta

%d bloggers like this: