Mendengarkan

November 21, 2018 § Leave a comment

Diantara hal hebat yang dimiliki ayah saya, bagi kami anak-anaknya, adalah keahlian mendengarkan. Ayah adalah pendengar yang baik. Beliau tidak pernah sekalipun tidak mendengarkan kami. Sebelia apapun usia kami saat itu. Seremeh-temeh apapun cerita yang kami kisahkan waktu itu. Saat kami mulai bicara, ayah berhenti bicara, bahkan beliau berhenti melakukan apapun kesibukannya, lalu mendengarkan. Inilah diantara sebab kenapa kami sedari kecil sudah sangat senang bercerita. Hingga detik ini.

Semua bisa mendengar dan itu mudah. Karena memang demikian default kerjanya telinga. Namun untuk benar-benar mendengarkan perlu fokus, kesabaran dan cinta. Tidak setiap orang dapat dengan mudah memberikan tiga hal tersebut. Dalam kasus ini, tidak semua ayah bisa melakukan hal tersebut.

Kemampuan mendengarkan orang lain adalah keahlian yang banyak dari kita tidak memiliki lagi. Kata Stephen Covey, Many of us listen with the intent to reply, we must listen with the intent to understand. Tidak mampu lagi mendengar dan memahami ini adalah salah satu sebab utama kenapa media sosial tidak lagi seindah dulu. Kenapa diskusi tidak seasyik biasanya. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Leadership Means None’s Left Behind

November 2, 2018 § Leave a comment

Writing about leadership becomes quiet difficult for me because we don’t have yet common definition of what leadership is. The dictionary said leadership is the action of leading group of people or organization. Some people said leadership is about finding your style to fit in community so they will work as you wish. For me it sounds more like management rather than leadership.

These couple weeks, in my free time, I have been searching anything related to leadership. And I see leadership is not like what I thought it was. Leadership is something else, and nd it has nothing to do with rank, skills, grade, intelligence, educational level, or anything. I believe, to be a leader requires one thing and one thing only: the followers. That’s it.  You are a leader when others raise their hands and volunteer to go on the direction you set.

The question then, is why should anyone follow you? « Read the rest of this entry »

Azan

April 3, 2018 § Leave a comment

sunset masjid

Heboh tentang puisi beberapa waktu belakangan menimbulkan reaksi yang cukup ramai. Ada yang istigfar sambil mengusap dada, ada yang marah besar. Ada yang mohonkan hidayah untuk simbok pembaca puisi dan ada pula yang menyumpah-serapahi. Ada yang, ah emang gue pikiran, dan ada yang, eh, gimana gimana? Lalu, saya? Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang yang baca puisi azan.

Azan (الأذان), dalam Fathul Baari, berarti pengumuman akan waktu shalat dengan lafaz yang khusus. Azan merupakan salah satu syiar yang paling mulia dalam Islam.

Imam Qurtubi mengatakan bahwa rangkaian kalimat dalam azan mengandung pesan-pesan penting agama ini. Azan dimulai dengan mengagungkan Allah. Dilanjut dengan dua syahadat, Rukun Islam pertama dan menjadi kunci keislaman seseorang. Lalu azan mengajak kepada salat (rukun Islam kedua) dan kepada falah. Kata falah mungkin boleh saya terjemahkan dengan kebahagiaan, happiness. Sebab yang saat ini tengah santer dicari seluruh manusia adalah happiness. Dan jawabannya ada pada azan. Kemudian kalimat azan kembali mengingatkan tentang salat lalu ditutup dengan takbir dan tahlil. « Read the rest of this entry »

Beragama Jangan Pilih-pilih

December 5, 2017 § Leave a comment

colorful

Buya Hamka pernah ditanya oleh salah satu jamaahnya,

“Buya, kita sama-sama sudah tahu, bahwa Al Quran menyebutkan solat dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Namun, fakta yang saya dapati berbeda. Saya punya dua orang tetangga. Tetangga pertama seorang pak haji, rajin ke surau, senantiasa mengaji, tak pernah ketinggalan solat jamaah. Namun, saat anak-anak sini bermain di pekarangan rumahnya, malah omelan yang keluar dari mulut pak haji.

Tetangga saya yang satunya lagi seorang dokter. Bukan orang soleh, jarang ke surau, apalagi mengaji. Satu-satunya waktu beribadah yang saya bertemu dengannya adalah solat Ied. Selain itu entahlah apa dia solat atau tidak. Namun, ketika anak-anak bermain di pekarangannya, dokter itu membiarkan mereka. Tidak seperti pak haji yang menceracau kesana kemari; dokter yang jarang solat itu malah ramah. Dimana bukti solat mencegah perbuatan keji dan mungkar, Buya?” « Read the rest of this entry »

December: Save the Best for the Last

December 1, 2017 § Leave a comment

20171204_0926061189941684.jpg

Banyak momen menarik pada permulaan bulan ini. Pertama, Faris genap berusia satu tahun. Kedua, terlepas dari ikhtilaf yang ada, 1 Desember ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ketiga, hari ini menutup November Challenge saya. Dan, keempat, bulan ini adalah bulan penghabisan di 2017. « Read the rest of this entry »

Menyikapi Stres [NC#21]

November 21, 2017 § Leave a comment

Sepanjang pikiran bisa berjalan normal dan perasaan masih peka, stres adalah konsumsi setiap manusia. Tidak ada manusia normal yang tak luput dari masalah yang berarti tak ada orang yang tak stres. Hanya saja, cara penerimaan setiap individu berbeda. Ada yang menyikapi dengan baik, namun banyak yang mengambil pelarian untuk melupakan masalah. Bentuk terkecilnya adalah dengan mengundur mengerjakan masalah tersebut; procrastionation dan bentuk terparahnya adalah obat-obatan atau putus asa. Tidak sedikit pula melakukan pelarian dengan cara paling sederhana dan murah gratis: tidur. Namun, pelarian itu hanya menunda stres sementara. Setelah itu, kepala kembali berat, bahkan berlipat ganda dari level stres sebelumnya. « Read the rest of this entry »

Blog itu untuk Sekali Duduk [NC#20]

November 20, 2017 § Leave a comment

typwriter

Menulis untuk blog pada prinsipnya adalah tulisan sekali duduk. Blog, bagi saya, adalah wadah melatih jari menari di atas keyboard dan melatih otak merangkai aksara. Maka, menulisnya tidak perlu sempurna-sempurna banget. Kesalahan di sana sini, penulisan yang tak sesuai dengan EYD atau penggunaan bahasa yang tidak baku, bukanlah masalah dalam blog. Jika ingin menulis blog, tulis saja. Begitu kuncinya.

Saya perlu berkali-kali mengingatkan hal ini agar tertanam di alam bawah sadar. Sebab, jika tidak demikian, menulis blog bisa menjadi momok. Agaknya saya sudah tiba pada fase menjelang jenuh. Cape menulis setiap hari. Namun karena tuntutan peran (aih), saya paksakan menulis. Apapun itu. Jika tidak ada ide yang bisa saya tulis, maka tidak ada ide itu adalah judul blog hari ini. Jika saya terlalu lelah pulang bekerja maka terlalu lelah itu adalah tema bahasan blog. Apa saja dapat dijadikan bahan tulisan. Menulis blog itu bebas. Dan penulis blog adalah orang yang kaya dengan ide. Karena apapun bisa ditulisnya.

Saya bukan penulis. Belum satupun karya tulis saya berbentuk buku. Hanya ada satu-dua hasil penelitian. Itupun karena statussaya sebagai mahasiswa. Tuntutan peran (aih). Secara mutlak saya boleh katakan, saya bukan penulis. Karena itu, menulis blog ini tidak ada taruhannya. Nothing to lose. Jika tulisan saya jelek, tidak ada juga yang peduli. Jika tulisan saya bagus, alhamdulillah. Itu menjadi perkembangan menulis saya. Jika tulisan tak bermanfaat, tak apa. Jika tulisan saya memberi inspirasi, itu juga kado. Prinsipnya, penulis blog, menurut saya, adalah orang yang lepas. Menulis apa saja. Mengambil ide dari mana saja.

Karena itu, memaksakan menulis setiap hari adalah bentuk menciptakan kebiasaan yang bagus. Dan, agaknya, setelah November nanti, saya perlu terus memaksakan kebiasaan ini. Tak ada yang perlu ditakutkan dalam menulis blog. Karena itu, tulislah blog dengan sekali duduk. Jika ingin lebih baik, baca ulang kembali dan edit sedikit. Lalu, post!

Selamat menulis.

Jakarta, 3.54 pm

 pic: bsnscb.com/